Menteri Pertahanan AS Sebut Program Jet F-35 Kacau, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengiriman pesawat tempur F-35B milik Angkatan Udara Inggris, yang dikirim dari Marine Corps Air Station Beaufort di Amerika Serikat menuju pangkalan baru RAF Marham, Inggris, 6 Juni 2018. Inggris mendatangkan jet F-35B seharga Rp 2,2 triliun. Sgt Nik Howe/MoD Handout via REUTERS

    Pengiriman pesawat tempur F-35B milik Angkatan Udara Inggris, yang dikirim dari Marine Corps Air Station Beaufort di Amerika Serikat menuju pangkalan baru RAF Marham, Inggris, 6 Juni 2018. Inggris mendatangkan jet F-35B seharga Rp 2,2 triliun. Sgt Nik Howe/MoD Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pejabat sementara Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengatakan kepada para penyelidik dari Kantor Inspektur Jenderal Pentagon bahwa program jet tempur F-35 kacau.

    Tetapi ia menjelaskan bahwa ia tidak merujuk pada pesawat itu sendiri, yang menurutnya luar biasa, menurut laporan Departemen Pertahanan yang dirilis Kamis, seperti dikutip dari CNN, 26 April 2019.

    Komentar Shanahan dirinci sebagai bagian dari penyelidikan etika oleh Kantor Inspektur Jenderal Pentagon atas tuduhan ia mempromosikan kepentingan mantan perusahaannya, Boeing, dan berulang kali meremehkan pesaing perusahaan, Lockheed Martin, yang merupakan kontraktor utama untuk F -35 jet tempur.

    Baca: Jet Tempur F-35 Digodok 11 Negara, Ini Kekuatannya

    Shanahan bebas dari kesalahan apa pun ketika penyidik menentukan komentarnya tentang program F-35 itu substantif, terkait dengan kinerja program, dan serupa dengan komentar yang dibuat oleh pejabat senior Pemerintah lainnya.

    Namun penilaiannya yang meresahkan terhadap program F-35, khususnya kekhawatirannya tentang kurangnya suku cadang pesawat, hanya diperkuat oleh laporan terpisah yang dirilis Kamis dari kelompok pengawas federal.

    Singapura berencana membeli empat jet tempur F-35 dari perusahaan bernama Lockheed Martin Corp. Pembelian itu untuk menggantikan jet tempur F-16 yang sudah tua. Sumber: STEPHANIE YEOW/straitstimes.com

    Hampir 30 persen dari jet tempur siluman F-35 militer AS tidak dapat terbang selama periode tahun lalu karena kekurangan suku cadang, menurut laporan baru dari Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO).

    "Hampir 30 persen Pesawat F-35 tidak dapat terbang dari periode Mei - November 2018 karena kekurangan suku cadang," kata GAO, mencatat bahwa Departemen Pertahanan memiliki simpanan sekitar 4.300 bagian suku cadang F-35.

    Laporan yang dirilis Kamis memunculkan pertanyaan tambahan tentang keadaan sistem senjata paling mahal di dunia.

    Secara khusus, laporan inspektur jenderal memperjelas bahwa penyelidik mempertimbangkan fakta tentang komentar Shanahan, bahwa dia tidak mengkritik pesawat itu sendiri tetapi program secara keseluruhan, ketika menilai apakah dia telah melanggar perjanjian etika.

    "Tuan Shanahan memberi tahu kami bahwa dia tidak mengatakan bahwa pesawat F-35 kacau. Dia memberi tahu kami bahwa pesawat F-35 'luar biasa,' kata laporan itu. "Shanahan mengatakan kepada kami bahwa dia mengatakan program F-35 yang kacau."

    Baca: Biaya Terbang Pesawat Tempur F-35 Rp 490 Juta Per Jam

    Insektur jenderal mencatat kritik keseluruhan Shanahan terhadap program F-35 didasarkan pada berbagai masalah, termasuk suku cadang yang tidak mencukupi dalam inventaris dan biaya per jam penerbangan tidak berkurang cukup cepat.

    Menurut Lockheed Martin, jet tempur F-35 disebut-sebut sebagai masa depan penerbangan militer, sebuah pesawat mematikan dan serbaguna yang menggabungkan kemampuan siluman, kecepatan supersonik, kelincahan ekstrem, dan teknologi fusi sensor canggih.

    Namun, pesawat jet tempur F-35 juga menuai kritik tajam dalam beberapa tahun terakhir setelah menghadapi daftar panjang kemunduran, termasuk masalah dengan perangkat lunak, mesin, dan sistem senjata.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?