Kapal Perang Prancis Lewat Selat Taiwan, Cina Protes

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal Frigate Vendemiaire. Youtube

    Kapal Frigate Vendemiaire. Youtube

    TEMPO.COTaiwan – Sebuah kapal perang Prancis melewati Selat Taiwan pada awal April 2019 dan memicu protes dari pemerintah Cina.

    Baca:

     

    Pelayaran kapal perang Prancis ini menunjukkan dukungan kepada sekutu yaitu Amerika Serikat, yang sedang mengupayakan kebebasan navigasi di laut internasional. Ini terkait klaim Cina atas Laut Cina Selatan sebagai wilayahnya.

    “Ini membuka pintu bagi sekutu lainnya seperti Jepang dan Australia untuk melakukan operasi serupa,” begitu dilansir Reuters pada Kamis, 25 April 2019.

    Baca:

     

    Dua pejabat AS mengatakan kapal perang Prancis ini melewati Selat Taiwan pada 6 April 2019. Kapal Frigate Vendemiaire ini sempat dibayangi oleh kapal perang Cina. Pejabat ini mengaku tidak pernah mendengar kapal perang Prancis melewati selat ini sebelumnya.

    Pelayaran kapal militer asing di Selat Taiwan kerap menimbulkan protes pemerintah Cina, yang menganggap negara pulau itu sebagai provinsi yang mencoba memerdekakan diri.

    Baca:

     

    Karena pelayaran ini, pemerintah Cina menginformasikan kepada pemerintah Prancis bahwa negara itu tidak lagi diundang untuk mengikuti parade maritim pada 22 -- 25 April 2019 untuk memperingati 70 tahun berdirinya angkatan laut Tentara Pembebasan Rakyat.

    Media Sputnik News melansir kementerian Pertahanan Cina mengatakan kapal perang Prancis itu melewati wilayah laut Cina pada 7 April 2019.

    Baca:

     

    Sebaliknya, seperti dilansir Reuters, kementerian Pertahanan Prancis mengatakan kapal lautnya melewati Selat Taiwan setahun sekali tanpa ada insiden ataupun reaksi. Paris menegaskan negaranya memiliki hak untuk melakukan pelayaran secara bebas di Taiwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?