Amerika Serikat Tawarkan Rp 140 M untuk Penyalur Dana Hizbullah

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan pengikut Houthi membawa poster pemimpin Hezbollah Libanon Sayyed Hassan Nasrallah saat melakukan aksi protes terhadap serangan koalisi Arab Saudi di Sanaa, Yaman, 22 April  2015. REUTERS/Khaled Abdullah

    Ratusan pengikut Houthi membawa poster pemimpin Hezbollah Libanon Sayyed Hassan Nasrallah saat melakukan aksi protes terhadap serangan koalisi Arab Saudi di Sanaa, Yaman, 22 April 2015. REUTERS/Khaled Abdullah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah AS menawarkan imbalan US$ 10 juta atau Rp 140,7 miliar untuk informasi tiga terduga sponsor utama Hizbullah, kelompok paramiliter Lebanon yang dicap teroris oleh AS.

    Departemen Luar Negeri dan Keuangan AS merilis tiga nama: Adham Tabaja, Ali Charara dan Mohamed Bazzi, sebagai penyokong dana kelompok Hizbullah, seperti dilaporkan Russia Today, 23 April 2019.

    Baca: Militer Israel Temukan 6 Terowongan Bawah Tanah Hizbullah

    "Hezbollah menerima senjata, pelatihan, dan pendanaan dari Iran hingga US$ 1 miliar (Rp 14 triliun) per tahun," kata Asisten Kementerian Luar Negeri Michael Evanoff.

    Evanoff mengklaim Hizbullah menggunakan dana itu untuk kegiatan mendukung pemerintah di Suriah, pemberontak Houthi di Yaman, dan operasi pengawasan dan pengumpulan intelijen di tanah air Amerika.

    "Jangan salah, pemerintah AS akan menggunakan semua alat yang tersedia untuk memadamkan sumber pendapatan Hizbollah," kata Asisten Departemen Keuangan Marshall Billingslea.

    Baca: Pemimpin Hizbullah Klaim Pasukannya Bisa Masuki Wilayah Israel

    AS menunjuk Iran sebagai sponsor negara terorisme pada tahun 1984, dan Hezbollah sebuah organisasi teroris pada tahun 1997. AS juga menunjuk Iran Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai organisasi teroris awal bulan ini. Iran telah membalas dengan mendeklarasikan Pusat Komando AS sebagai organisasi teroris.

    Perburuan Hizbullah ditawarkan di bawah program "Rewards for Justice", yang dimulai pada tahun 1984 dan sejauh ini telah membayar lebih dari US$ 150 juta (Rp 2 triliun) kepada lebih dari 100 orang, menurut Departemen Luar Negeri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perolehan Kursi DPR Pemilu 2019, Golkar dan Gerinda di Bawah PDIP

    Meski rekapitulasi perolehan suara Golkar di Pileg DPR 2019 di urutan ketiga setelah PDIP dan Gerindra, namun perolehan kursi Golkar di atas Gerindra.