Pelaku Penembakan di Selandia Baru Akan Tes Kesehatan Mental

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa teroris penembakan dua masjid di Christchurch diadili pada Sabtu, di pengadilan distrik Christchurch, Selandia Baru.[REUTERS]

    Terdakwa teroris penembakan dua masjid di Christchurch diadili pada Sabtu, di pengadilan distrik Christchurch, Selandia Baru.[REUTERS]

    TEMPO.CO, JakartaBrenton Tarrant, 28 tahun, dimunculkan ke persidangannya yang kedua pada Jumat pagi, 5 April 2019. Dalam persidangan ini, hakim pengadilan tinggi yang memimpin persidangan meminta agar dilakukan pengecekan kesehatan mental terhadap Tarrant guna menentukan apakah dia layak untuk diadili. 

    Tarrant saat ini sudah dipindahkan ke sebuah penjara di kota Auckland, Selandia Baru, di bawah pengawasan 24 jam dan tanpa akses ke media. Masa penahanannya berlaku hingga 14 Juni 2019. 

    Dalam persidangan kedua, Tarrant dihadirkan melalui video conference yang disambungkan ke Pengadilan Tinggi kota Christchurch, Selandia Baru. Hakim Pengadilan Tinggi kota Christchurch, Cameron Mander mengatakan Tarrant dapat mengajukan sebuah pembelaan pada persidangan berikutnya tergantung pada hasil uji kesehatan mentalnya dan jika ada perkembangan lebih lanjut.

    Baca: Sidang Penembakan di Selandia Baru, Media Hanya Boleh Mencatat

     

    Penjara Auckland.[Stuff.co.nz]

    Baca: Pelaku Penembakan di Selandia Baru Dimunculkan di Sidang Kedua 

    Rencananya, dua ahli kesehatan jiwa akan ditugaskan untuk mengevaluasi kesehatan mental Tarrant. Sedangkan Kepolisian Selandia Baru akan melanjutkan investigasi penembakan massal terburuk dalam sejarah negara itu.   

    Dikutip dari reuters.com, Jumat, 5 April 2019, Tarrant telah dikenai 49 tuduhan pembunuhan dan 39 tuduh percobaan pembunuhan. Tindakan penembakan massal di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru diduga dilakukan Tarrant pada Jumat, 15 Maret 2019 yang menewaskan 50 orang jamaah solat Jumat dan melukai puluhan orang. 

    Dalam persidangan Jumat, 5 April 2019, Tarrant terlihat dalam kondisi duduk dengan tangan diborgol. Dia memakai kemeja penjara warna abu-abu. Dia mendengarkan sesi dengar persidangannya yang kedua dengan tenang yang berlangsung hanya sekitar 20 menit. Puluhan anggota keluarga korban penembakan dan mereka yang selamat dari serangan maut itu, hadir ke ruang persidangan.      

    “Laki-laki itu tak menunjukkan ekspresinya,” kata Tofazzal Alam, warga Selandia Baru yang ikut hadir ke persidangan. 

    Dalam persidangan berikutnya, Tarrant akan didampingi oleh dua orang pengacara. Salah satu pengacara bernama Shane Tait yang sudah mengkonfirmasi hal ini lewat website resminya. Namun Tait, belum mau berkomentar lebih jauh.      


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?