Militer AS Rekrut Hacker untuk Halau Serangan Drone Kecil

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Unmanned aircraft system (UAS) atau pesawat tanpa awak, Chung Shyang II Taiwan disiapkan jelang dilakukan uji coba di Pingtung, Taiwan 24 Januari 2019. UAV Chung Shyang II memiliki panjang badan pesawat di 5, 3 meter, dan panjang sayap 8, 7 meter. REUTERS/Tyrone Siu

    Unmanned aircraft system (UAS) atau pesawat tanpa awak, Chung Shyang II Taiwan disiapkan jelang dilakukan uji coba di Pingtung, Taiwan 24 Januari 2019. UAV Chung Shyang II memiliki panjang badan pesawat di 5, 3 meter, dan panjang sayap 8, 7 meter. REUTERS/Tyrone Siu

    TEMPO.CO, Jakarta - Angkatan Laut Amerika Serikat merekrut tenaga IT profesional termasuk ilmuwan, insinyur, periset dan bahkan hacker untuk menghalau serangan drone.

    Dikutip dari Sputnik, 3 April 2019, media pertahanan Defense One melaporkan, Pentagon berupaya mencegah serangan drone kecil komersial yang mudah dibeli namun bisa digunakan untuk menyerang.

    Baca: Rusia Kembangkan Drone AK-47 yang Mematikan, Seperti Apa?

    Angkatan Laut AS bekerja sama dengan Angkatan Darat AS, telah meluncurkan program inisiatif yang disebut Operasi JYN, dinamai dari Jyn Erso, karakter fiksi di Star Wars: Rogue One.

    Kalashnikov, dalam situsnya, menyebutkan bahwa drone kamikaze KYB mempunyai beberapa keuntungan utama, yaitu sangat presisi, peluncurannya tersembunyi atau sulit dideteksi, operasionalnya senyap, dan mudah dioperasikan. en.kalashnikov.media

    "Ini diperlukan untuk memungkinkan (Angkatan Laut) untuk mendapatkan keunggulan kompetitif atas kemajuan komersial teknologi sistem drone dan potensi untuk tujuan jahat terhadap fasilitas dan aset (Angkatan Laut)," menurut sebuah memo tertanggal 28 Maret oleh James 'Hondo' Geurts, yang bertanggung jawab atas akuisisi Angkatan Laut.

    Baca: Drone Misterius Muncul, Bandara Dubai Ditutup Sementara

    "Para pejabat Angkatan Laut bekerja sama dengan Defense Digital Service untuk menciptakan tim yang terdiri dari personel militer dan sipil yang sangat memiliki kemampuan teknologi tinggi untuk bekerja dalam ruang kolaboratif seperti startup untuk secara cepat mengembangkan produk-produk baru (kontra-drone) demi mengatasi perkembangan ancaman (Drone)," tulis Geurts, dikutip dari Defense One.

    Baca: Diintai Drone, Bandara Gatwick di Inggris Ditutup

    Ini adalah upaya AS untuk mengantisipasi serangan drone sipil, yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir, seperti kasus drone kecil yang menyebabkan penutupan di bandara utama di London, Newark dan Dubai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.