Rusia Sebut Pasukannya di Venezuela sebagai Spesialis

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Venezuela, Nicolas Maduro (Kiri) dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Reuters.

    Presiden Venezuela, Nicolas Maduro (Kiri) dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Reuters.

    TEMPO.CO, Moskow – Pemerintah Rusia mengatakan telah mengirim spesialis ke Venezuela dalam payung kerja sama militer.

    Baca:

     

    Para spesialis ini bukan ancaman bagi stablitas regional. Ini merupakan tanggapan atas seruan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa Rusia harus menarik semua pasukan dari negara sosialis itu.

    “Kehadiran anggota militer Rusia di Venezuela terkait dengan diskusi dan kerja sama teknis militer,” kata Jose Rafael Torrealba Perez, yang merupakan atase militer Venezuela, pada Kamis, 28 Maret 2019 seperti dilansir Reuters.

    Media Interfax melansir anggota militer Rusia tidak akan terlibat dalam operasi militer di Venezuela.Ada sekitar 100 tentara yang tiba di Caracas pada Sabtu pekan lalu. Mereka dilengkapi dengan 35 ton peralatan. 

     

    Secara terpisah, juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova, mengatakan pasukan yang datang adalah spesialis.

    “Rusia tidak mengubah keseimbangan kekuatan di wilayah. Rusia tidak mengancam siapapun, tidak seperti para pejabat di Washington,” kata dia dalam jumpa pers rutin pekanan.

    Sedangkan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan para spesialis itu terkait dengan kontrak yang ada antara kedua negara terkait suplai senjata Rusia.

    Baca:

     

    Menurut dia, Rusia tidak sedang mengintervensi urusan internal Venezuela. Dia berharap negara lain juga membiarkan Venezuela memutuskan nasibnya sendiri.

    Dua pesawat angkatan udara Rusia mendarat di Bandara Simon Bolivar International di Caracas, Venezuela.

    Secara terpisah, Menteri Pertahanan interim AS, Patrick Shanahan, menampik penjelasan pemerintah Rusia ini. “Saya tidak yakin saya selalu mempercayai apa yang mereka katakan,” kata dia.

    Seperti dilansir CNN, AS, Uni Eropa, dan mayoritas negara di Amerika Latin mendukung tokoh oposisi Juan Guaido sebagai Presiden interim.

    Sebaliknya, Rusia, Cina, Turki, dan Kuba, mendukung Nicolas Maduro, yang saat ini menjabat sebagai Presiden. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?