Warga Bakal Gelar Peringatan Sepekan Aksi Teror di Selandia Baru

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekitar 12 ribu warga dari berbagai agama dan ras berkumpul di sebuah lapangan di ibu kota Wellington, Selandia Baru, pada Ahad, 17 Maret 2019 untuk mendoakan korban penembakan massal di 2 masjid di Kota Christchurch, yang terjadi pada Jumat, 15 Maret 2019. Dewi Yahya

    Sekitar 12 ribu warga dari berbagai agama dan ras berkumpul di sebuah lapangan di ibu kota Wellington, Selandia Baru, pada Ahad, 17 Maret 2019 untuk mendoakan korban penembakan massal di 2 masjid di Kota Christchurch, yang terjadi pada Jumat, 15 Maret 2019. Dewi Yahya

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Indonesia, Tantowi Yahya, mengatakan serangan teror di Selandia Baru pada pekan lalu masih menimbulkan rasa kesedihan mendalam bagi warga setempat.

    Baca:

     

    Warga akan mengadakan acara bersama pada Jumat, 22 Maret 2019, untuk mengenang sepekan aksi teror yang dilakukan Brenton Harrison Tarrant asal Australia pada Jumat, 15 Maret 2019.

    “Rencananya para peserta perempuan diharapkan untuk mengenakan tutup kepala seperti hijab sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam,” kata Tantowi dalam rlis yang diterima Tempo pada Rabu, 20 Maret 2019.

    Tantowi menjelaskan sekitar 12 ribu warga dari berbagai ras dan agama juga telah menggelar acara doa bersama untuk para korban penembakan di ibu kota Wellington pada Ahad, 18 Maret 2019.

    Baca:

     

    “Mereka memenuhi sebuah lapangan untuk bersama-sama berdoa bagi kedamaian mereka yang telah menjadi korban dan ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan,” kata dia.

    Abdul Aziz yang merupakan pria kelahiran Afganistan, melakukan tindakan untuk mengalihkan perhatian teroris penembakan di Christchurch, Selandia Baru, agar menjauh dari masjid setelah menewaskan orang-orang di dalamnya. smh.com.au

    Tantowi juga memuji kepemimpinan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dalam mengatasi situasi pasca penembakan di Christchurch itu. Ardern, yang merupakan pemimpin termuda dunia berusia 38 tahun, mengumumkan dengan cepat bahwa penembakan itu sebagai aksi terorisme. Menurut Tantowi, ini tidak terjadi oleh pemimpin dunia lain saat terjadi serangan brutal terhadap umat Islam di negaranya.

    Tantowi juga mengapresiasi tindakan Ardern yang langsung datang ke Kota Christchurch dari ibu kota Wellington pasca penembakan untuk menemui keluarga para korban. “Dia menunjukkan simpati dan perhatiannya sebagai kepala pemerintahan,” kata dia.

    Baca:

    Ardern, seperti diberitakan luas, juga memeluk keluarga para korban dan membisikkan mereka agar merasa tenang dan tabah. Dia berjanji pemerintah akan bergerak cepat memastikan semuanya kembali normal.

    Pelaku serangan teror di Selandia Baru, Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, menggunakan senapan semiotomatis untuk menembaki jamaah dua masjid di Kota Christchurch pada Jumat, 15 Maret 2019. 50 orang tewan dan 48 orang terluka. Heavy

    Tantowi mengatakan Ardern sempat menerima telepon dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pasca serangan teror itu. Saat Trump bertanya apa yang bisa dilakukan, menurut Tantowi, Ardern menjawab,”Ramahlah kepada umat Islam.” Trump lalu mencuit,”Saya cinta Selandia Baru.”

    Baca:

     

    Menurut Tantowi, suasana di Selandia Baru berangsur normal meski masih dirundung kekhawatiran dan kesedihan. “Tidak ada hoax, tidak ada orang serta kelompok yang mempolitisir keadaan untuk kepentingan tertentu. Tidak ada pula yang maki-maki dan demo untuk melampiaskan kemarahan,” kata dia. Ini karena publik percaya pemerintah mengambil kebijakan yang tepat dalam menangani masalah terorisme ini.

    Serangan teror di Selandia Baru oleh Brenton Harrison Tarrant, 28 tahun, menyasar jamaah salat Jumat. 50 warga tewas di dua masjid yaitu masjid Al Noor dan masjid Linwood. 2 orang meninggal di rumah sakit dalam perawatan. Saat ini masih ada 31 orang dirawat intensif dengan 9 orang dalam keadaan kritis seperti dilansir Stuff.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.