Komentar Imam Besar Al Azhar Soal Poligami Jadi Kontroversi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmed al-Tayeb, Imam Besar Al Azhar. Sumber: REUTERS/Tony Gentile/rt.com

    Ahmed al-Tayeb, Imam Besar Al Azhar. Sumber: REUTERS/Tony Gentile/rt.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Imam Besar Al-Azhar Mesir, Ahmed al-Tayeb, melontarkan pernyataan yang langsung mengundang kontroversi mengenai poligami. Tayeb menggambarkan poligami sebagai sebuah praktik ketidak adilan bagi perempuan oleh orang-orang yang tidak memahami Al Quran.

    "Mereka yang mengatakan pernikahan harus poligami, itu semua salah. Jika tidak bisa berbuat adil, maka dilarang memiliki beberapa istri," kata Tayeb, dalam sebuah acara TV, seperti dikutip dari rt.com, Minggu, 3 Maret 2019.

    Baca: Komnas Perempuan: Yang Sebut Poligami Sunnah Nodai Islam

    Baca: PSI: Poligami Lebih Banyak Mudarat Ketimbang Manfaat

    Menurut Tayeb, laki-laki muslim yang berkeinginan memiliki istri lebih dari satu harus mematuhi aturan khusus mengenai keadilan. Sebab jika tidak bisa adil, maka jangan berpoligami.

    Selain mengomentari soal pernikahan, Tayeb juga mengutarakan pendapatnya mengenai perlunya memperbaiki posisi perempuan di lingkungan masyarakat. Separuh dari jumlah masyarakat adalah perempuan sehingga jika perempuan tidak dilindungi itu sama dengan berjalan dengan satu kaki.

    Komentar Tayeb soal poligami itu mengundang kontroversi di media sosial. Banyak yang mendukung penuh, tetapi ada pula yang berpandangan lain.

    Al Azhar pun segera mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengklarifikasi kalau ucapan Tayeb bukan berarti melarang poligami seperti yang dinilai sejumlah pihak. Pernyataan Imam Besar itu pun tidak dipermasalahkan oleh Dewan Nasional Mesir untuk perempuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.