Biarawati Katholik Kritik Uskup di Konferensi Vatikan

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Biarawati Veronica Openibo berbicara saat konferensi penanganan pelecehan seksual anak di Vatican City, Vatikan pada Sabtu, 23 Februari 2019. Vatican News

    Biarawati Veronica Openibo berbicara saat konferensi penanganan pelecehan seksual anak di Vatican City, Vatikan pada Sabtu, 23 Februari 2019. Vatican News

    TEMPO.COVatican City – Seorang biarawati Katholik mengatakan kepada para uskup untuk mengakui sikap hipokrit gereja dalam menangani krisis pelecehan seksual anak.

    Baca:

    Di Vatikan, Kardinal Ungkap Dokumen Pelaku Pedofil Dimusnahkan

     

    Biarawati Veronica Openibo dari Nigeria, yang telah bekerja di Afrika, Eropa, dan Amerika Serikat, mengatakan dengan suara lembut namun berisi pesan yang tegas kepada para peserta konferensi.

    “Badai ini tidak akan berlalu,” kata Openibo dihadapan sekitar 200 peserta konferensi penanganan pelecehan seksual anak di Vatikan City seperti dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 23 Februari 2019.

    Biarawati Openibo melanjutkan,”Kita telah menyatakan Sepuluh Perintah Tuhan dan menganggap diri kita sebagai penjaga standar moral, nilai, dan perilaku baik di masyarakat. Bersikap hipokrit kadang-kadang? Ya! Mengapa kita bersikap diam begitu lama?” kata Openibo.

    Baca:

    Paus Janjikan Tindakan Kongkrit Atas Kasus Pelecehan Seksual Anak

    Dia juga berkata kepada Paus Fransiskus, yang duduk di sebelahnya, bahwa dia mengaguminya karena mau bersikap rendah hati untuk mengubah pikirannya.

    Menurut Openibo, Paus mau meminta maaf dan mengambil tindakan setelah sebelumnya dia membela seorang uskup Cile, yang dituding menutup-nutupi kasus pelecehan seksual pada 2018. Uskup itu akhirnya mengundurkan diri.

    “Bagaimana bisa para imam gereja bersikap diam selama ini, menutup-nutupi tindakan sangat kejam ini? Sikap diam ini, membawa rahasia ini di hati para pelaku kejahatan, durasi terjadinya pelecehan seksual itu lama, dan perpindahan terus-menerus para pelaku pelecehan seksual tidak bisa dibayangkan,” kata Openibo.

    Baca:

    Dia juga mengaku terkejut saat menonton film Spotlight, yang meraih hadiah Oscar pada 2015, dan membongkar praktek pemimpin gereja di Boston. Pendeta predator anak-anak dipindahkan dari satu paroki ke paroki ang lain dan bukannya dikeluarkan atau diserahkan kepada otoritas sipil.

    “Kita harus mengakui bahwa sikap sederhana, hipokrit, dan berpuas diri telah membawa kita kepada skandal dan hal memalukan seperti saat ini sebagai sebuah gereja. Kita berhenti untuk berdoa, Tuhan ampuni kami semua,” kata dia.

    Baca:

    Menurut Openibo, para pemimpin gereja harus menghentikan kebiasaannya menyembunyikan peristiwa-peristiwa ini karena khawatir bakal membuat kesalahan.

    “Sering kali kita ingin bersikap diam hingga badai berlalu. Badai ini tidak akan berlalu. Kredibilitas kita dipertaruhkan,” kata Openibo. Dia mendesak sistem hirarki gereja yang didominasi lelaki harus melibatkan lebih banyak perempuan untuk memerangi pelecehan seksual terhadap anak ini.

    Paus Fransiskus memimpin misa di hadapan sekitar 130 ribu orang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Selasa, 5 Februari 2019. [VATICAN NEWS]

    Secara terpisah, Kardinal Jerman, Reinhard Marx, yang merupakan uskup agung dari Munich, mengatakan kepada sekitar 200 peserta konferensi bahwa prosedur menginvestigasi dan menghukum para imam pelaku pedofilia sering diabaikan.

    Baca:

    Paus Fransiskus Akui Biarawati Alami Pelecehan Seksual oleh Uskup

    “Dokumen yang telah mendokumentasikan perilaku mengerikan dan nama-nama yang bertanggung jawab telah dihancurkan atau tidak dibuat sama sekali,” kata Reinhard Marx seperti dilansir ABC Net. Komisi Kerajaan Australia menemukan adanya praktek kerahasiaan di gereja Katholik dan dokumen yang mencatat tuduhan pelecehan seksual terhadap anak-anak sering tidak bisa ditemukan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.