Amerika Serikat Tarik Pasukan, Inggris Siap Perangi ISIS

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Mobilisasi Populer Shi'ite (PMF) duduk di depan bendera hitam milik militan ISIS usai berhasil merebut kembali kota Hawija dari tangan kelompok militan ISIS di Irak, 5 Oktober 2017. Kota Hawija dikenal sebagai benteng bagi kelompok militan ISIS. REUTERS

    Pasukan Mobilisasi Populer Shi'ite (PMF) duduk di depan bendera hitam milik militan ISIS usai berhasil merebut kembali kota Hawija dari tangan kelompok militan ISIS di Irak, 5 Oktober 2017. Kota Hawija dikenal sebagai benteng bagi kelompok militan ISIS. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Inggris siap melakukan apa pun yang harus dilakukan demi menetralisir negara itu dari ancaman kelompok radikal Islamic State atau ISIS, Rabu, 13 Februari 2019. Komitmen itu disampaikan setelah Amerika Serikat menyarankan dibuat sebuah misi internasional baru ke wilayah timur laut Suriah. 

    “Kami mengakui fakta ancaman ISIS terus berkembang dan ancaman ini berubah-ubah serta berpencar-pencar. Kami akan terus melakukan apa yang diperlukan untuk memastikan Inggris dan sekutu-sekutu kami tetap aman,” kata Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson.

    Baca: Algojo ISIS Asal Indonesia Tewas oleh Peluru Tank di Suriah 

    Terkait ancaman ISIS, Menteri Pertahanan sementara Amerika Serikat Patrick Shanahan mengatakan pihaknya akan berkonsultasi dengan para sekutu dalam sebuah pertemuan para menteri pertahanan anggota NATO nanti di Brussels, Belgia. Dalam pertemuan itu, Shanahan akan menekankan pembicaraan pada potensi penempatan pasukan pemantau di timur laut Suriah setelah Amerika Serikat menarik pasukan militernya dari Suriah.

    Baca: Harry Kuncoro Tambah Daftar Teroris WNI Berafiliasi ke ISIS 

    Dikutip dari english.alarabiya.net, Kamis, 14 Februari 2019, pasukan militer Amerika Serikat terlibat pertempuran sengit dalam upaya memukul mundur militan-militan ISIS di timur Suriah. Satu-satunya wilayah yang masih ditempati militan ISIS adalah wilayah timur Suriah setelah kelompok itu mendeklarasikan kekhalifahan pada 2014. Namun dalam kondisi seperti ini, Amerika Serikat memantapkan rencana untuk menarik sekitar 2 ribu pasukan militernya dari Suriah.

    Rencana Amerika Serikat yang disampaikan Presiden Donald Trump itu mengejutkan sekutu-sekutu Amerika Serikat dan menimbulkan keresahan soal bagaimana keamanan di Suriah.

    Shanahan mengatakan dia akan menggunakan kesempatan pertemuan NATO untuk mendiskusikan kemungkinan menempatkan pasukan pemantau di timur laut Suriah untuk memastikan stabilitas jangka panjang di wilayah tersebut. Dia menyebut koalisi internasional anti-ISIS bisa menjadi pilihan bagi penempatan pasukan pemantau tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Riuh di Panggung, Riuh di Cyber

    Di dunia maya, adu cuitan dan status jauh lebih ramai antara pendukung dan juru bicara kedua kubu.