Bekraf dan Tantio Film Teken MoU Kerja Sama Perfilman di Jerman

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Kepala Bekraf RI, Ricky Joseph Pesik dan CEO Tatino Film, Matthieu Darras menandatangani MoU untuk kerja sama di bidang perfilman. Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno menyaksikan penandatangan MoU di KBRI Berlin, Selasa, 12 Februari 2019. {KBRI Berlin}

    Wakil Kepala Bekraf RI, Ricky Joseph Pesik dan CEO Tatino Film, Matthieu Darras menandatangani MoU untuk kerja sama di bidang perfilman. Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno menyaksikan penandatangan MoU di KBRI Berlin, Selasa, 12 Februari 2019. {KBRI Berlin}

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Ekonomi Kreatif atau Bekraf RI menandatangani Nota Kesepahaman, MoU, dengan Tatino Film di Berlin, Jerman. Penandatanganan yang berlangsung di KBRI Berlin pada Selasa, 12 Februari 2019 dilakukan antara Wakil Kepala Bekraf RI, Ricky Joseph Pesik dan CEO Tatino Film, Matthieu Darras. Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno menyaksikan penandatanganan itu.

    Dalam MoU disepakati beberapa bidang kerja sama, antara lain pelatihan film fiksi dan dokumenter untuk produser film, penulisan skenario, pengambilan gambar, dan penyuntingan.

    Baca: Bekraf Mendorong Investasi di Industri Perfilman

    Ricky mengatakan, pengembangan industri perfilman Indonesia menjadi salah satu prioritas Bekraf RI. Sementara dalam tiga tahun terakhir, produksi film Indonesia meningkat sekitar 300 persen. Begitu pula jumlah penonton bioskop di Indonesia melonjak dari sekitar 16 juta pada tahun 2015, menjadi sekitar 50 juta pada 2018.

    Angka tersebut menunjukkan animo tinggi dari masyarakat dan insan perfilman Indonesia. Trend yang meningkat ini sekaligus menegaskan potensi besar yang bisa dikembangkan.

    “Kita perlu menyiapkan pelaku perfilman yang lebih handal untuk dapat mengimbangi peningkatan ini. Untuk itulah kami sepakati kerja sama dengan Tatino Film di Berlin”, jelas Ricky pada sambutannya, seperti disampaikan dalam rilis KBRI di Berlin yang diterima Tempo, Rabu, 13 Februari 2019.

    Baca: Pudarnya Paradigma Hollywood-sentris di Dunia Perfilman

    Dubes Havas menyatakan peluang kerja sama perfilman perlu diperluas. Selain peningkatan kapasitas, dia mengusulkan sebuah paket lengkap dalam kegiatan misi perfilman Indonesia di Jerman.

    “Seperti kegiatan yang sempat saya hadiri kemarin, yakni pemutaran perdana Film Aruna dan Lidahnya di Festival Film Berlinale 2019. Ke depan perlu kita rancang kegiatan yang lebih lengkap. Tidak cuma menghadirkan para aktor aktris, sutradara dan penulis film saja, tetapi juga kita buatkan paket kegiatan untuk dapat menggaet para investor untuk industri perfilman tanah air. Dengan potensi besar seperti disebutkan Pak Ricky tadi, tentunya menjadi magnet bagi para investor”, ujar Dubes Havas.

    Baca: Tumbuhkan Industri Perfilman, Indonesia Butuh 3 Ribu Bioskop

    Darras menuturkan, kerja sama dengan Bekraf RI sebenarnya telah dimulai sejak pertengahan 2017. Berbagai pembahasan kerja sama terus bergulir. Dari situ semakin terlihat peluang besar yang dapat dimanfaatkan. Hingga akhirnya kedua pihak sepakat untuk menandatangani MoU di awal tahun 2019.

    Darras yang sebelumnya pernah berkuliah di Belanda mengaku sangat tertarik dengan keberagaman yang dimiliki Indonesia, yang menurutnya semakin menguatkan potensi besar Indonesia.

    Setelah penandatanganan MoU dengan Bekraf RI, direncanakan kegiatan pelatihan oleh Tatino Film akan dimulai pada Agustus mendatang di Jakarta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.