Menghindari Shutdown, Kongres Amerika Serikat Buat Kesepakatan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa mengenakan pakaian dengan motif bata, saat mengambil bagian dalam Women's March di Trump International Hotel, Washington, AS, 19 Januari 2019. Motif bata yang dikenakan peserta aksi itu, melambangkan tembok perbatasan antara Meksiko-AS. REUTERS

    Pengunjuk rasa mengenakan pakaian dengan motif bata, saat mengambil bagian dalam Women's March di Trump International Hotel, Washington, AS, 19 Januari 2019. Motif bata yang dikenakan peserta aksi itu, melambangkan tembok perbatasan antara Meksiko-AS. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim negosiator di Kongres Amerika Serikat telah mencapai sebuah kesepakatan dalam hal pendanaan pemerintahan dan menghindari dilakukannya shutdown atau penutupan sementara pemerintah.

    Kata sepakat itu disampaikan oleh sekelompok politisi, yang diantaranya Senat Partai Republik Richard Shelby dan anggota Kongres Amerika Serikat Nita Lowey pada Senin malam, 11 Februari 2019 waktu Amerika Serikat.

    Dikutip dari aljazeera.com, Selasa, 12 Februari 2019, kesepakatan dicapai setelah dilakukan pertemuan tertutup di Capitol Hill. Namun Shelby yang juga hadir dalam pertemuan itu enggan merinci kepada wartawan apa saja kesepakatan yang dibuat. Dia hanya meyakinkan seluruh anggota parlemen Amerika Serikat harus berusaha keras menjalankan kesepakatan ini.

    Baca: Pemberlakuan Shutdown Makin Dekat, Parlemen AS Masih Beda Suara 

    Tim negosiator dari Partai Republik dan Partai Demokrat melakukan pertemuan pada Senin, 11 Februari 2019 setelah pada akhir pekan lalu kedua partai terbesar di Amerika Serikat itu tak sejalan soal penahanan imigran dan pembangunan tembok perbatasan Amerika Serikat.

    Diantara poin ketidak sepahaman adalah Partai Demokrat meminta pendanaan bagi imigran ilegal yang ditahan oleh Kepolisian Imigrasi dan Bea Cukai dikurangi. Akan tetapi, Partai Republik meminta agar pendanaan dinaikkan supaya bisa mempercepat proses deportasi para imigran ilegal itu.   

    Baca: Shutdown Amerika Serikat Mengancam Pertumbuhan Lapangan Kerja 

    Presiden AS, Donald Trump, berdebat dengan Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Nancy Pelosi, dan Ketua Fraksi Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dengan disaksikan Wapres Mike Pence dan direkam awak media di Oval Office, Gedung Putih, mengenai pembangunan tembok di perbatasan Meksiko pada 11 Desember 2018. Fox News

    Sebelumnya pada Desember 2018, Presiden Donald Trump meminta uang sebesar US$ 5,7 miliar atau Rp 80 triliun untuk membangun tembok perbatasan. Permintaan Trump yang tak digubris ini telah memicu dilakukannya shutdown dan berakhir pada akhir bulan lalu.

    Shutdown itu adalah yang terlama dalam sejarah Amerika Serikat. Presiden Trump setuju untuk membuka kembali pemerintahan selama tiga pekan agar memungkinkan tim negosiator di Kongres Amerika Serikat melakukan kompromi soal pendanaan pemerintah untuk tahun fiskal yang akan berakhir pada 30 September 2019. 

    Sementara itu pada Senin malam, 11 Februari 2019, Presiden Trump menggelar sebuah kampanye di El Paso, yakni sebuah kota perbatasan Texas – Meksiko. Dalam kesempatan itu, Trump menekankan pentingnya pembangunan tembok perbatasan di El Paso sehingga bisa membuat kota itu teraman setelah selama ini menjadi salah satu kota paling berbahaya di Amerika Serikat.      

    Sebuah rekaman video kampanye Trump memperlihatkan penduduk El Paso mengatakan pembangunan tembok perbatasan bisa mengurangi kriminalitas, namun kampanye itu juga diadang oleh ribuan masyarakat yang menentang pembangunan tembok perbatasan. Mereka yang tidak setuju, kecewa karena Presiden Amerika Serikat telah menggambarkan komunitas mereka penuh dengan aksi kejahatan, perdagangan manusia dan sebuah tempat yang tak aman di Amerika Serikat, padahal itu semua keliru.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Efek Pemilu 2019 terhadap Ekonomi Indonesia

    Pemilihan umum menjadi perhatian serius bagi para investor di pasar saham dan pasar uang. Bagaimana mereka merespon gelaran pesta demokrasi 2019?