Perusahaan Minyak Maduro Coba Mengakali Sanksi Amerika

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Access24

    Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Access24

    TEMPO.COCaracas – Manajemen perusahaan minyak pelat merah Venezuela, PDVSA, yang dikontrol pemerintahan pimpinan Presiden Nicolas Maduro, memberitahu pelanggan agar mendepositokan hasil penjualan minyak ke dalam rekening yang bank milik Rusia yaitu Gazprombank AO.

    Baca:

     

    Langkah PDVSA ini dilakukan setelah pemerintah Amerika Serikat menerapkan sanksi keras finansial kepada Venezuela untuk memblokir akses Presiden Nicolas Maduro ke pendapatan hasil penjualan minyak negara itu.

    Sebaliknya pendukung pemimpin oposisi Venezuela yaitu Juan Guaido mengatakan akan membuka rekening untuk menampung dana hasil penjualan minyak Venezuela.

    Baca:

     

    “Kami ingin memberi tahukan secara formal terkait instruksi perbankan agar membuat pembayara dalam dolar AS atau Euro,” begitu tertulis dalam surat yang ditandatangani Wakil Presiden Keuangan PDVSA, Fernando De Quintal, tertanggal 8 Februari 2019 seperti dilansir Reuters pada Ahad, 10 Februari 2019 waktu setempat.

    Surat itu ditujukan kepada manajemen di salah satu unit di PDVSA yang mengawasi kegiatan joint venture atau perusahaan patungan yang dibuat induk perusahaan.

    Manajemen PDVSA juga mulai menekan mitra asing yang memegang saham dalam usaha patungan di area pengeboran Orinoco Belt agar memutuskan secara formal apakah akan melanjutkan proyek yang sedang dikerjakan. Saat ini ada beberapa mitra asing seperti Equinor ASA dari Norwegia, Chevron Corp dari AS, dan Total SA dari Prancis.

    Baca:

     

    Manajemen PDVSA masih bisa mengoperasikan rekening bank di AS dan Eropa pasca pengenaan sanksi pertama AS terhadap Venezuela pada 2017. Rekening itu digunakan untuk menampung uang hasil penjualan minyak. Manajemen juga menggunakan bank koresponden di AS dan Eropa untuk memindahkan uang hasil penjualan minyak ke rekening PDVSA ke bank di Cina.

    Ribuan pendukung oposisi turun ke jalan saat melakukan aksi protes menuntut Presiden Venezuela Nicolas Maduro mundur di Caracas, Venezuela, 2 Februari 2019. Aksi protes tersebut dilakukan saat pertemuan ke-20 Revolusi Bolivaria di Caracas. REUTERS/Adriana Loureiro

    Saat ini, seperti dilansir CNN, pemerintah Cina, Rusia dam Turki masih mendukung pemerintahan pimpinan Presiden Nicolas Maduro. Dua negara Amerika Latin yang masih mendukung adalah Meksiko dan Kuba.

    Baca:

     

    Namun, mayoritas negara Amerika Latin seperti Argentina dan Brasil serta AS, Kanada dan Uni Eropa mendukung tokoh oposisi Juan Guaido, yang juga merupakan Presiden Majelis Nasional.

    Sanksi AS terhadap Venezuela membuat sejumlah kapal tanker berisi minyak di lepas pantai negara itu tidak bisa beroperasi karena muncul masalah pembayaran. Kemacetan penjualan minyak ini menambah masalah bagi manajemen PDVSA. PDVSA juga membutuhkan komponen naphtha untuk campuran pengolahan minyak bumi jenis extra heavy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Riuh Penguasaan Lahan Melibatkan Kubu Jokowi dan Prabowo

    Serangan Jokowi kepada Prabowo pada Debat Pilpres putaran kedua memantik keriuhan. Jokowi menyebut lahan yang dimiliki Prabowo di Kalimantan dan Aceh.