Amerika Desak Maduro Mundur, Cina Minta Dialog Damai di Venezuela

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Venezuela, Nicolas Guaido, dan Presiden interim, Juan Guido. Sky.com

    Presiden Venezuela, Nicolas Guaido, dan Presiden interim, Juan Guido. Sky.com

    TEMPO.COBeiijing – Pemerintah Cina mengatakan bangsa Venezuela harus menyelesaikan masalahnya sendiri lewat pembicaraan damai terkait krisis yang dialami pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Kemenlu Cina mengatakan mendukung upaya komunitas internasional dalam konteks ini.

    Baca:

    Sekitar 20 negara anggota Uni Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis dan Spanyol telah bersikap sama seperti AS untuk mendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido sebagai Presiden interim. Mereka mendukung Maduro segera menggelar pemilu baru.

    Berbeda dengan AS yang menunjukkan sikap keras, UE dan sejumlah negara Amerika Latin memilih bersikap moderat terhadap pemerintah Venezuela dengan meminta dialog dan pemilu baru.

    Grup Kontak Internasional, yang beranggotakan sejumlah negara Amerika Latin dan didukung UE, baru saja menggelar pertemuan di Montevideo, Uruguay pada pekan ini. Mereka mengatakan intervensi keras terhadap Venezuela bisa malah meningkatkan situasi menjadi krisis.

    Baca:

    Menanggapi pertemuan ini, kemenlu Cina mengatakan negaranya mendukung upaya komunitas internasional dalam penyelesaian damai di Venezuela. Cina berharap semua pihak akan terus melanjutkan peran konstruktif.

    “Urusan Venezuela harus diselesaikan oleh bangsa itu sendiri dalam kerangka konstitusi dan hukum lewat dialog damai dan jalur politik,” begitu pernyataan dari kemenlu Cina seperti dilansir Reuters pada Sabtu, 9 Februari 2019. “Hanya dengan cara ini Venezuela dapat memiliki stabilitas yang langgeng.”

    Baca:

    Saat ini Cina merupakan pemberi pinjaman terbesar ke Venezuela yaitu sekitar US$50 miliar atau sekitar Rp700 triliun. Pinjaman ini dalam skema pembayaran menggunakan minyak Venezuela selama satu dekade terakhir. Ini membuat Cina mendapat suplai energi terjamin untuk pertumbuhan industrinya yang pesat.

    Presiden Cina, Xi Jinping, dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebelum pertemuan mereka di Aula Besar Rakyat di Beijing, Cina, 1 September 2015.[REUTERS]

    Namun, pinjaman ini mengering seiring melemahnya perekonomian Venezuela pada 2015. Apalagi saat itu harga minyak sempat merosot sebelum naik lagi selama dua - tiga tahun terakhir.

    Baca:

     
     

    Mengenai ini, pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, telah mengirim utusan ke Rusia dan Cina dan mengatakan mengutamakan dua kreditor utama negara itu. Saat ini, Cina dan Rusia masih mendukung Maduro, yang menganut paham sosialis.

    Pemerintah AS, secara terpisah, berupaya agar posisi Maduro terus melemah dengan melobi militer agar meninggalkan rezim saat ini. AS berjanji akan menghapus sanksi kepada pejabat militer Venezuela jika mereka mendukung Guaido. Guaido juga mengeluarkan pernyataan berupa janji amnesti dan perlakuan hukum khusus jika militer mau meninggalkan Maduro dan mengabaikan perintahnya.

    Menghadapi ini, Maduro berupaya menggalang dukungan dari para perwira militer baik dari jajaran pimpinan hingga tentara. Dia hadir secara rutin di berbagai acara di markas militer. Para perwira terlihat berdiri dibelakangnya dan meneriakkan slogan seperti “Selalu Setia, Menolak Pengkhianat”.

    Media New York Post melansir seorang tokoh oposisi senior, yang pernah dipenjara rezim Maduro, mengatakan dia yakin Maduro bakal segera mundur. “Masyarakat sipil tidak lagi mendukung Maduro dan para birokrat tidak lagi melakukan tugasnya,” kata dia yang dibebaskan tahun lalu dan menjalani tahanan rumah saat ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Riuh Penguasaan Lahan Melibatkan Kubu Jokowi dan Prabowo

    Serangan Jokowi kepada Prabowo pada Debat Pilpres putaran kedua memantik keriuhan. Jokowi menyebut lahan yang dimiliki Prabowo di Kalimantan dan Aceh.