40 Tahun Revolusi, Jejak Metamorfosis Iran

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi. Sumber: TEMPO/Suci Sekar

    Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi. Sumber: TEMPO/Suci Sekar

    TEMPO.CO, Jakarta -  Februari boleh dibilang bulan bersejarah bagi Iran. Pada 40 tahun silam di bulan itu, masyarakat merayakan sebuah momen bersejarah yang disebut Revolusi Iran 1979.      

    Melalui revolusi, Iran berdiri sebagai sebuah negara yang merdeka dari tanpa campur tangan asing, khususnya Amerika Serikat. Masyarakat turun ke jalan secara damai untuk merayakan kemenangan ini. 

    Baca: Amerika Beri Sanksi Ekonomi, Ini Siasat Iran 

    Duta Besar Iran untuk Indonesia Valiollah Mohammadi. Sumber: TEMPO/Suci Sekar

    Sebelum Revolusi 1979, Iran adalah sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Akan tetapi, Tehran melihat Amerika Serikat banyak ikut campur. Setelah Revolusi 1979, kekuasaan Negara Abang Sam di Iran hilang. Masyarakat secara damai turun ke jalan dan memenangkan revolusi Iran. 

    Menurut Duta Besar Iran untuk Indonesia, Valiollah Mohammadi, setelah 40 tahun Revolusi, Iran mengalami sebuah perkembangan yang luar biasa. Iran telah menjadi sebuah negara yang matang dan berhasil.

    Baca: Iran Mulai Proses 30 Ton Adonan Kuning Uranium 

    Dalam 40 tahun perjalanan pasca-revolusi, teknologi kloning, bio-teknologi dan teknologi nano Iran menduduki peringkat ke-5 di dunia. Sedangkan di bidang kesehatan, Tehran sebelumnya mengundang para dokter dari India dan Pakistan agar berpraktik di Iran, namun setelah 40 tahun revolusi, dokter-dokter dari Iran banyak yang berpraktik di negara-negara tersebut. 

    “Di usia 40 tahun revolusi Iran, kami sudah 90 persen memproduksi obat-obatan sendiri. Untuk melakukan sejumlah operasi rumit dan canggih seperti operasi ginjal dan jantung, rumah sakit di Iran sudah memasuki peringkat dunia,” kata Mohammadi, Selasa, 5 Februari 2019 di kantor Kedutaan Besar Iran di Jakarta. 

    Disinggung soal korupsi birokrasi di Iran, Mohammadi menjelaskan korupsi dalam birokrasi adalah persoalan yang hampir terjadi di berbagai negara. Akan tetapi, dampak dari perang urat saraf, maka korupsi yang dilakukan beberapa oknum di Iran telah dibesar-besarkan. 

    “Perang media terhadap Iran seolah-oleh sedang terjadi korupsi sistematis dan luar biasa. Saya rasa sanksi oleh Amerika Serikat telah dibarengi dengan berita bohong, diantaranya membesar-besarkan kasus korupsi di Iran. Iran adalah negara yang kena sanksi sejak 1979 dan kami sudah terbiasa menghadapi sanksi. Kami melihat sanksi ini menyerang ekonomi Iran lewat berita bohong,” kata Mohammadi.  

    Mohammadi mengatakan setelah 40 tahun revolusi 1979, siapapun yang berkunjung ke Iran akan sangat terkejut. Sebab keadaan Iran sama sekali tidak terlihat sebagai negara yang puluhan tahun dikenai sanksi, kehidupan masyarakat Iran pun terlihat tidak tertekan. 

        


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.