Maduro Enggan Mundur, Grup Lima Larang Pejabat Venezuela

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menggelar acara lari bersama tentara loyalis pada 27 Januari 2019. Reuters

    Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menggelar acara lari bersama tentara loyalis pada 27 Januari 2019. Reuters

    TEMPO.COCaracas – Grup Lima, yang beranggotakan empat belas negara Amerika Latin, bersepakat untuk menunda kerja sama militer dengan pemerintah Venezuela pimpinan Presiden Nicolas Maduro. Grup ini juga menyatakan larangan bagi pejabat tinggi Venezuela memasuki negara mereka.

    Baca:

     
     

    “Kami sepakat melakukan sejumlah langkah ini yaitu sejalan dengan undang-undang negara masing-masing untuk mencegah pejabat Venezuela masuk ke wilayah negara anggota Grup Lima,” begitu bunyi pernyataan grup ini seperti dilansir Sputnik News pada Selasa, 5 Februari 2019.

    Grup ini juga menunda semua program kerja sama militer dengan militer di bawah pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Ini termasuk izin penerbangan pesawat militer Venezuela terkait kegiatan kemanusiaan.

    Grup Lima berdiri pada Agustus 2017 untuk mempromosikan reformasi Demokrasi di Venezuela. Grup Lima terdiri dari sejumlah negara seperti Argentina, Brasil, Chile, Kolombia, Kosta Rika, Guatemala, Guyana, Honduras, Panama, Paraguay, Peru dan Saint Lucia.

    Baca:

     

    Mayoritas negara anggota bersikap kritis terhadap Maduro, yang sedang menghadapi krisis politik, dan mendukung pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, yang merupakan Presiden Majelis Nasional atau semacam parlemen.

    Guaido, seperti dilansir Reuters, telah menobatkan diri sebagai Presiden interim menggantikan Maduro pada dua pekan lalu. Dia berjanji menggelar pemilu secepatnya. Guaido mendapat dukungan penuh Presiden AS, Donald Trump, yang membuka kemungkinan opsi pengiriman pasukan ke Kolombia, yang bertetangga dengan Venezuela, untuk menjatuhkan Maduro, yang didukung militer dan polisi.

    Baca:

     

    Setelah Kanada mengumumkan bantuan senilai Rp560 miliar untuk para pengungsi Venezuela kemarin, pemerintah AS juga mengatakan telah mengirimkan obat dan makanan ke perbatasan Kolombia dan Venezuela.

    Belum diketahui bagaimana caranya agar kiriman ini bisa masuk ke Venezuela karena Maduro melarang bantuan seperti ini masuk ke negaranya sebelum ini.

    Baca:

     

    Maduro menuding AS, seperti dilansir Reuters, mengincar minyak bumi yang dimiliki Venezuela, yang diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

    Seorang pejabat AS mengatakan bantuan akan disalurkan lewat bantuan Cucuta. Lainnya akan disalurkan lewat Brasil dan Karibia. “Akan ada belasan titik di Venezuela untuk menerima bantuan ini,” kata pejabat tadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.