Gerilyawan Kiri Kolombia Siap Bertempur Jika AS Serang Venezuela

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemberontak dari Tentara Pembebasan Nasional (ELN) Marxis Kolombia beristirahat di luar sebuah rumah dekat sungai San Juan, Kolombia 31 Agustus 2017. [REUTERS / Federico Rios]

    Pemberontak dari Tentara Pembebasan Nasional (ELN) Marxis Kolombia beristirahat di luar sebuah rumah dekat sungai San Juan, Kolombia 31 Agustus 2017. [REUTERS / Federico Rios]

    TEMPO.CO, Jakarta - Tentara Pembebasan Nasional (ELN), yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa, mengatakan tidak takut menyerang jika Amerika menyerbu Venezuela.

    Pemimpin kelompok Marxis yang merekrut para pemuda Venezuela mengatakan mereka sedang mempersiapkan strategi militer untuk memastikan mereka tidak akan lengah jika Donald Trump memberi perintah agar pasukan AS dikerahkan ke Venezuela, seperti dikutip dari laporan Express.co.uk, 4 Februari 2019.

    Baca: Nicolas Maduro Siagakan Marinir dan Komando AL untuk Perang

    Berbicara di Kuba, komandan ELN yang diasingkan, Israel Ramirez Pineda, juga dikenal sebagai Pablo Beltran, menegaskan prajuritnya siap untuk melawan balik segala agresi dari Amerika.

    "Tentu saja rencana serangan AS akan berarti bahwa kita yang pertama dalam barisan," kata Beltran kepada Sunday Telegraph.

    "Jika mereka datang ke sini, kita akan merespons. Kami tidak akan lari dan bersembunyi," tambahnya.

    Pablo Beltran.[resumenlatinoamericano.org]

    Tentara pemberontak yang berbasis di Kolombia beroperasi di pegunungan di sepanjang perbatasan 600 kilometer dari Venezuela dan Kolombia di mana mereka menjalankan penambangan emas ilegal di antara perdagangan gelap lainnya.

    Bulan lalu, para militan mengklaim bertanggung jawab atas sebuah bom mobil yang mematikan di Bogota, Kolombia, yang menewaskan 21 kadet polisi dan 68 lainnya luka-luka.

    Baca: Donald Trump Pertimbangkan Militer AS untuk Serang Venezuela

    Penasihat keamanan nasional AS John Bolton menolak untuk mengesampingkan opsi intervensi militer di Venezuela, dengan mengatakan "semua opsi ada di meja".

    Dalam sebuah wawancara di CBS pada Ahad, 3 Februari 2019, Trump mengatakan intervensi militer AS sedang dipertimbangkan.

    Pemerintahan Trump ingin melihat akhir pemerintahan Presiden Maduro dan mengakui pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido sebagai pemimpin yang sah.

    Penasehat keamanan nasional Gedung Putih, John Bolton, memegang buku catatan yang berisi tulisan "5000 tentara ke Kolombia" pada Selasa, 29 Januari 2019. Sky News

    Dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih, John Bolton terlihat memegang sebuah buku catatan yang bertuliskan "5.000 tentara ke Kolombia" dan menuduh Presiden Maduro menerbangkan aset Venezuela dengan pesawat penuh setelah rencana terungkap ia akan menjual 29 ton emas ke UEA.

    Nicolas Maduro menuduh Trump dan "sekelompok ekstremis di sekitarnya" merencanakan untuk menggulingkannya untuk mendapatkan akses ke cadangan minyak Venezuela yang luas, memperingatkan bahwa tindakan militer akan mengubah negara yang dilanda krisis menjadi Perang Vietnam baru.

    Sejak awal tahun 1960-an, ELN telah berjuang untuk mendirikan negara komunis dan menurut Insight Crime, sebuah lembaga studi yang berbasis di ibu kota Kolombia, kelompok ini menguasai lebih dari setengah wilayah Venezuela.

    Baca: Catatan John Bolton Mau Kirim Pasukan AS, Opsi Serang Venezula?

    Beltran mengatakan sejumlah besar pejuang ELN akan menjadikan mereka "sasaran empuk". Dia menambahkan pendukung jutaan kelompoknya berbasis di Venezuela.

    "Tetapi kita juga harus ingat bahwa ada jutaan warga Kolombia yang tinggal di Venezuela, yang melarikan diri dari serangan paramiliter sayap kanan di puncak konflik Kolombia, dan mereka yang menjadi anggota ELN tidak berhenti menjadi ELN ketika mereka melintasi perbatasan," kata pemimpin gerilyawan Kolombia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.