Umat Kristen Korea Utara Berdoa Ditutupi Selimut atau di Toilet

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Kristen menjalankan ibadahnya secara sembunyi-sembunyi di Korea Utara. [ASIANews]

    Umat Kristen menjalankan ibadahnya secara sembunyi-sembunyi di Korea Utara. [ASIANews]

    TEMPO.CO, Jakarta - Umat Kristen Korea Utara mempertahankan kepercayaan mereka dengan cara sembunyi-sembunyi demi menghindar dari persekusi aparat, meski ada yang terbuka menunjukkan keyakinannya dan berakhir dengan kematian tragis.

    Persekusi terhadap umat Kristen di Korea Utara diungkap oleh para pembelot di Korea Selatan dan jaringan kerja gereja bawah tanah di Korea Utara, seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu, 2 Februari 2019.

    Baca: Misionaris Australia Ditangkap di Korea Utara

    Perlakukan Korea Utara terhadap umat Kristen akan menjadi isu besar dalam pertemuan puncak kedua antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump dan jika Paus Fransiskus memenuhi undangan Kim berkunjung ke Korea Utara.

    Seperti diungkap seorang warga Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan, setiap hari Minggu keluarganya pulang ke rumah dan menyanyikan lagu-lagu gereja perlahan-lahan. Sementara di depan rumah mereka berdiri seseorang yang memperhatikan para informan aparat Korea Utara.

    Ada juga yang menanggung resiko dengan berpindah keyakinan menjadi Kristen bersama 10 anggota keluarganya dan tetangganya. Hidup mereka berakhir di tangan aparat rahasia sebelum membelot ke Korea Selatan.

    Baca: Begini Kehidupan Keagamaan di Korea Utara  

    Seorang pembelot Korea Utara di Seoul bermimpi membangun gereja di tanah kelahirannya.

    "Saya ingin membangun gereja dan bernyanyi sekuat yang saya bisa," kata H.Y, nama inisialnya demi keselamatan keluarga dan umat Kristen di Korea Utara.

    Seorang perempuan Korea Utara yang membelot menuturkan, dia hanya bisa berdoa di bawah selimut atau toilet karena takut tertangkap.

    Kwak Jeong-ae, 56 tahun, pembelot yang tinggal di Seoul mengungkapkan temannya sesama narapidana di Korea Utara mengaku kepada penjaga bahwa dirinya seorang Kristen. Ia bersikeras meminta nama baptisnya digunakan daripada nama Koreanya saat menjalani pemeriksaan pada tahun 2004.

    "Dia bersikeras mengatakan, 'Nama saya Yun Sarah, ini nama dari Tuhan dan gereja untuk saya. Saya anak Allah dan saya tidak takut mati. Jadi, jika anda ingin membunuh saya, silakan dan bunuh saya," kata Jeong-ae mengutip ucapan rekannya sesama narapidana saat bersama-sama diperiksa lantaran keyakinan mereka.

    Yun Sarah, 23 tahun, keluar dari ruang interogasi dengan luka-luka di kening dan darah mengucur dari hidungnya. Beberapa hari kemudian penjaga penjara mencabut nyawa wanita itu.

    Baca: 4 Negara Tak Aman Bagi Umat Kristen

    Setelah H.Y kembali ke Korea Utara, dia mulai melakukan pewartawaan dengan uang yang diperolehnya dari sejumlah organisasi misionaris. Dia pertama-tama memenangkan hati orang-orang Korea Utara dengan meminjamkan uang, membagikan makanan dan membantu pemakaman.

    "Kami menyanyikan lagu-lagu dengan sangat pelan, saling memperhatian bibir satu dengan lainnya. Saya mengakhirinya dengan sering kali menangis," ujarnya.

    Hingga usianya kini 40 tahun, H,Y secara teratur mengirim uang ke Korea Utara melalui para broker untuk merawat desa yang berada di bawah kongregasinya.

    Kepala Institusi Strategi Unifikasi, lembaga think tank di Seoul, Kim Yun-tae mengatakan, diri telah mendengar kesaksian yang serupa mengenai tindakan keras penguasa Korea Utara terhadap umat beragama dan umat Kristen bawah tanah. Lebih dari 1.000 pembelot dari Korea Utara memberikan testimoni dalam 20 tahun terakhir.

    "Dari perspektif luar, sama sekali tidak ada kebebasan beragama di Korea Utara," kata Kim Yun-tae, yang tidak memiliki keyakinan agama.

    Kebanyakan umat Kristen yang tersisa di Korea Utara mempelajari agama ketika mereka tinggal di Cina akibat kelaparan parah di negara mereka yang menewaskan ratusan ribu orang pada tahun 1990-an. Mereka kemudian tertangkap di Cina lalu dikembalikan ke negaranya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.