Mendagri Filipina Sebut Pembom Katedral Pasutri Indonesia

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Filipina mengatakan pelaku dua pemboman katedral di Jolo adalah pasangan suami istri warga negara Indonesia, yang menewaskan 27 orang dan melukai 100 orang.

    Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, mengatakan pasutri ini terkait dengan kelompok ISIS.

    Baca: Dua Bom Meledak di Gereja di Filipina Selatan, 27 Orang Tewas

    "Yang bertanggung jawab atas pemboman bunuh diri adalah warga Indonesia. Tapi Abu Sayyaf yang membimbing mereka, mempelajari target, melakukan pengintaian, pengawasan, dan membawa pasangan itu ke gereja," kata Ano, dikutip dari Rappler, 1 Februari 2019. Namun Ano belum mengungkap identitas pelaku.

    Ano mengatakan penyelidikan masih berlangsung namun menerangkan bahwa menurut sumber yang ia peroleh, Abu sayyaf dan pasutri Indonesia terkait dengan ISIS. Pernyataan Ano serupa dengan pernyataan Presiden Duterte yang menyebut pelaku adalah pasangan suami istri.

    Sebelumnya Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan dirinya menerima informasi pasutri adalah warga Yaman namun diperlukan tes DNA untuk mengkonfirmasi ini.

    Baca: Pasca-Teror Katedral, Tentara Filipina Serbu Abu Sayyaf di Hutan

    Ano mengatakan ia melihat tidak ada hubungan antara pemboman katedral Jolo dan pemboman masjid Kota Zamboanga.

    Apa yang mungkin terkait, katanya, adalah ledakan Jolo dan pemboman mematikan di Kota Lamitan, Basilan pada 31 Juli 2018.

    Baca: Militer Filipina Kejar Kelompok Abu Sayyaf ke Kota Patikul

    Lorenzana mengatakan pada saat itu bahwa ledakan itu juga tampaknya merupakan serangan bunuh diri. Ano mengatakan apa yang menghubungkan kedua serangan itu adalah dugaan keterlibatan anggota ISIS asing dalam ledakan Basilan.

    Ano, yang juga seorang mantan kepala intelijen militer Filipina menambahkan, ada bagian-bagian tubuh yang ditemukan di katedral yang tidak diklaim oleh penduduk Jolo membuat pihak berwenang percaya bahwa mereka milik para pembom, dan saat ini pemeriksaan forensik belum selesai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.