Bank Sentral Inggris Tolak Penarikan Emas Rp 17 T oleh Maduro

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi emas. Shutterstock

    Ilustrasi emas. Shutterstock

    TEMPO.COLondon – Bank Sentral Inggris atau Bank of England dikabarkan menolak penarikan simpanan emas milik Venezuela oleh pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.

    Baca:

    Pemimpin Oposisi Venezuela Guaido Menolak Dialog dengan Maduro

     

    Simpanan emas ini bernilai sekitar US$1.2 miliar atau sekitar Rp17 triliun. Ini merupakan simpanan emas negara itu di Inggris.

    “Pejabat di Caracas telah mencoba selama beberapa pekan ini untuk menarik simpanan emas itu,” begitu dilansir Russia Today Sabtu, 26 Januari 2019.

    Gubernur Bank Sentral Venezuela, Calixto Ortega, telah datang ke London pada pertengahan Desember 2018 untuk mencoba menarik aset ini.

    Baca:

    Namun, upaya ini gagal karena pemerintah AS menekan pemerintah Inggris agar membekukan aset milik Venezuela itu. Tekanan ini dilakukan oleh Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, dan penasehat keamanan Gedung Putih, John Bolton.

    Ada taksiran yang mengatakan jumlah simpanan emas Venezuela mencapai sekitar US$8 miliar atau sekitar Rp112.5 triliun. Dan jumlah simpanan emas ini terus bertambah dari 14 ton menjadi 31 ton.

    Baca:

    Sebelum ini, negara Amerika Latin itu juga telah berupaya menarik simpanan emas mereka. Namun, upaya ini juga gagal karena para pejabat Inggris merasa khawatir pejabat Venezuela bakal menjual emas itu untuk kepentingan pribadi.

    Pejabat Bank Sentral Inggris dan pemerintah Venezuela enggan menanggapi soal ini.

    Secara terpisah, pimpinan oposisi Venezuela, Juan Guaido, memuji batalnya penarikan simpanan emas itu. “Upaya untuk melindungi aset Venezuela telah dimulai,” cuit Guaido. “Kita tidak akan mengizinkan lagi penyalahgunaan dan pencurian uang yang akan digunakan untuk kebutuhan makanan, obat-obatan dan masa depan anak-anak kita.”

    Baca:

    Seperti dilansir Reuters, Juan Guaido, yang merupakan Presiden Majelis Nasional di Venezuela menyatakan dirinya sebagai Presiden interim negara itu. Dia mengatakan semua kekuasaan pemerintah telah dipegang pada saat unjuk rasa besar di Caracas pada Rabu, 24 Januari 2019. Guaido didukung AS, Brasil, Argentina, Guatemala, dan Uni Eropa.

    Baca:

    Namun, Maduro menuding Guaido berupaya melakukan kudeta dengan dukungan AS. Dia juga mengusir diplomat AS dari Venezuela dan memutuskan hubungan diplomatik. Sedangkan Maduro didukung Meksiko, Rusia, Cina, dan Turki.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.