Mesir Minta CBS Batalkan Penayangan Wawancara El-Sisi

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Mesir, Mohammad Morsi, dan Menteri Pertahanan, Abdel Fattah el-Sisi. Reuters

    Presiden Mesir, Mohammad Morsi, dan Menteri Pertahanan, Abdel Fattah el-Sisi. Reuters

    TEMPO.COKairo – Pemerintah Mesir meminta stasiun televisi asal Amerika Serikat, CBS, untuk tidak menyiarkan rekaman wawancara Presiden Abdel Fattah el-Sisi, yang dikemas dalam program berita investigasi “60 Minutes”.

    Baca:

     

    “Tim 60 Minutes dikontak duta besar Mesir segera setelah wawancara berakhir dan diminta untuk tidak menyiarkan wawancara itu,” begitu pernyataan dari manajemen CBS seperti dilansir Aljazeera pada Jumat, 4 Januari 2019. “Wawancara ini akan tetap ditayangkan pada acara 60 Minutes pada Ahad, 6 Januari 2019 pukul 7 malam waktu setempat.”

    Menurut CBS, Sisi menjelaskan sejumlah hal dalam wawancara itu. Misalnya, Sisi membantah menahan sekitar 60 ribu tahanan politik di Mesir. Sisi juga mengaku telah bekerja sama dengan pemerintah Israel.

    Tim 60 Minutes juga menanyakan mengenai pembantaian sekitar 800 orang warga sipil oleh militer Mesir saat Sisi menjabat sebagai menteri Pertahanan.

    Baca:

     

    Media CBS News melansir Sisi juga mengaku kerja sama dengan militer Israel terjalin dengan erat. “Itu betul. Kami memiliki kerja sama yang luas dengan Israel. Saat ini, Mesir sedang bertempur melawan sekitar 1000 teroris terafiliasi ISIS di Semenanjung Sinai. Pemerintah Mesir mengizinkan Israel menyerang kelompok ISIS menggunakan serangan udara.

    Sisi menjadi menteri Pertahanan saat Mohammad Morsi dari kelompok Ikhwanul Muslimin terpilih sebagai Presiden lewat pemilu, yang digelar setelah pemberontakan Arab Spring atau Kebangkitan Arab.

    Setahun kemudian, Sisi mengkudeta Presiden Morsi saat sedang berbicara dalam siaran televisi langsung. Sisi disebut bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 1000 pendukung Ikhwanul Muslimin, yang memprotes kudeta terhadap Morsi.

    Baca:

     

    Saat pewawancara 60 Minutes, Scott Pelley, bertanya apakah Sisi memberikan perintah pembantaian itu, Sisi menjawab,”Ada ribuan orang bersenjata dalam aksi duduk di sana selama 40 hari. Kami mencoba semua cara damai untuk membubarkan mereka.”

    Menurut CBS News, pemerintah Mesir melaporkan hanya menemukan belasan senjata dari ribuan orang yang menggelar protes di lapangan Tahrir, Mesir.

    Sisi dianggap bersikap lebih otoriter dibandingkan semua pendulunya sebagai pemimpin Mesir di era moderen. Lembaga Human Rights Watch mengestimasi Sisi, yang merupakan pensiunan jenderal, menahan skitar 60 ribu tahanan politik.

    Baca:

     

    Soal ini, Sisi menjawab,”Saya tidak tahu mereka dapat angka itu dari mana. Saya katakan tidak ada tahanan politik di Mesir. Setiap saat ada kelompok minoritas mencoba memaksakan ideologi ekstrim mereka, kami harus intervensi berapapun jumlahnya,” kata Sisi.

    Menurut Kementerian Luar Negeri AS, pembunuhan dan penyiksaan terjadi di penjara Mesir pada era Sisi seperti sebelum dia berkuasa. Pelley sempat bicara dengan warga negara AS, Mohamed Soltan, yang dipenjarakan rezim Sisi dengan tuduhan menyebarkan berita palsu.

    Soltan mengambil gambar proses pembantaian tentara terhadap warga Mesir yang memprotes kudeta Sisi pada 2013. “Saya menjadi target karena saya membawa kamera, ponsel, dan saya mencuit,” kata Soltan kepada Pelley.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.