Pusat Detensi Uighur Mirip Kamp Konsentrasi Semasa Perang

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pagar dibangun di sekitar pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Dabancheng di Xinjiang di wilayah barat jauh Cina.[REUTERS]

    Pagar dibangun di sekitar pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Dabancheng di Xinjiang di wilayah barat jauh Cina.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pusat rehabilitasi untuk Muslim Uighur di Xinjiang, Cina barat, dilaporkan mirip seperti kamp konsenterasi dan para tahanan Muslim diduga dijadikan pekerja paksa.

    Berdasarkan kesaksian dari kerabat tahanan, citra satelit, dan laporan dokumen pemerintah yang terungkap menunjukkan para tahanan dipaksa untuk bekerja di sejumlah pabrik yang dibangun di dalam atau di sekitar kamp, setelah lolos dari fasilitas rehabilitasi, ungkap laporan New York Times, dilansir dari Daily Mail, 18 Desember 2018.

    Baca: Sikap Indonesia pada Penindasan Muslim Uighur, Begini Kata JK

    Para tahanan menceritakan kepada kerabat mereka bahwa mereka dipaksa bekerja membuat pakaian di bawah kondisi kerja yang buruk di pabrik dengan upah rendah.

    Satu juta lebih Uighur dan minoritas Muslim lain diyakini ditahan di pusat detensi di Xinjiang, menurut laporan PBB.

    Televisi pemerintah Cina menunjukkan Muslim Uighur menghadiri kelas tentang bagaimana menjadi warga negara yang taat hukum. Ada bukti bahwa para tahanan juga dipaksa untuk bekerja di pabrik-pabrik baru. [New York Times]

    Cina sendiri mengklaim kamp itu sebagai pusat pelatihan vokasi profesional yang digunakan untuk kontra-terorisme sekaligus meningkatkan keterampilan.

    Namun aktivis Uighur meyakini tiga juta lebih ditahan di kamp, menurut laporan Amnesty International. Di Xinjiang diperkirakan ada sekitar 12 juta Muslim Uighur.

    Periset Cina di Amnesty International, Patrick Poon, mengatakan ini adalah orang yang ditahan paling banyak dalam sejarah modern Cina.

    "Kamp ini serupa dengan kamp konsentrasi masa perang, dari skala dan kondisi lingkungannya mirip," katanya.

    "Di sana ada kelas doktrinisasi politik, di mana orang-orang dipukuli jika tidak mengikuti perintah. Kondisinya sangat represif," tambah Patrick.

    Baca: Kepala Badan HAM PBB Desak Akses Kunjungi Xinjiang Cina Dibuka

    Laporan lain mengungkapkan ribuan penjaga kamp dilengkapi dengan gas air mata, senjata listrik kejut, tongkat, menurut dokumen pemerintah.

    Dokumen mengungkapkan bahwa kamp yang dijuluki pusat pelatihan vokasional, harus "mengajari seperti sekolah, diatur secara militer, dan dijaga seperti penjara".

    Selain itu, kamp juga berupaya menghapus akar budara dan asal-usul tahanan. Dalam laporan sebelumnya, para tahanan dipaksa meminum alkohol dan makan daging babi.

    Pekerja berjalan di pagar perimeter yang dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Dabancheng di Xinjiang Uighur, Cina, 4 September 2018. REUTERS/Thomas Peter

    New York Times melaporkan, selain indoktrinasi, di dalam atau di sekitar kamp juga dibangun sejumlah pabrik. Citra satelit menangkap 10 hingga 12 bangunan besar yang diduga pabrik. Catatan sejumlah perusahaan mengungkap komoditas percetakan, pakaian, atau tekstil dialamatkan ke dalam kamp.

    Periset Turki mengatakan para tahanan dipaksa bekerja dengan gaji rendah, berdasarkan kesaksian yang dikumpulkan dari para kerabat tahanan.

    Menurut laporan Atajurt Kazakh Human Rights, organisasi HAM yang berbasis di Kazakhstan dan sering membantu etnis Kazan melarikan diri dari Xinjiang., para tahanan dipaksa bekerja membuat pakaian di dalam kondisi buruk dan upah rendah.

    Baca: 1,1 Juta Intelijen Cina Tinggal Bersama Keluarga Muslim Uighur

    Financial Times juga melaporkan salah satu tahanan yang dikirim ke kamp untuk bekerja di pabrik karpet dan yang lain dikirim k pabrik tekstil mengaku hanya mendapat upah US$ 95 atau Rp 1,3 juta per bulan.

    Namun pemerintah Cina membantah dan mengklaim kamp penahanan Uighur dan minoritas Muslim lain itu hanyalah pusat pelatihan vokasi untuk meningkatkan keahlian kerja yang dibutuhkan di masyarakat Cina, termasuk belajar bahasa Mandarin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.