Singapura Tarik Produk Daging Babi Belanda karena Salmonella

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi makanan mengandung daging babi. Creative market.com

    Ilustrasi makanan mengandung daging babi. Creative market.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Pengawas Makanan Singapura (AVA) bekerja sama dengan importir untuk menarik kembali produk babi mentah beku dari Belanda setelah temuan wabah salmonella.

    Langkah ini diambil setelah komisi pengawas makanan Eropa mengeluarkan peringatan akan wabah bakteri salmonella yang mengandung bakteri makanan, kata AVA pada Jumat kemarin, dilaporkan dari Channel News Asia, 15 Desember 2018.

    Baca: Ditemukan DNA Babi, Perusahaan Rusia Diskors Dewan Halal Dunia

    Wabah ini diduga terkait dengan konsumsi produk daging babi dari salah satu rumah penyembelihan hewan di Belanda.

    Pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa sekitar 1.200 ton daging babi beku dari rumah jagal yang diimpor ke Singapura.

    Salmonella

    NTUC FairPrice, jaringan supermarket terbesar di Singapura, mengatakan pada Sabtu bahwa meskipun membawa babi beku dari Belanda, supermarket itu belum diberitahu untuk menarik produk daging babi.

    "Kami tahu produk babi yang terinfeksi berasal dari rumah jagal tertentu," kata juru bicara supermarket."Kami menghubungi otoritas keamanan pangan setempat dan mereka tidak mengarahkan kami untuk mengingat produk daging babi kami."

    Baca: Virus Flu Babi Afrika Mengancam Asia Tenggara

    Daging mentah, termasuk daging babi, diketahui berpotensi membawa bakteri, yang mungkin termasuk salmonella, kata AVA. Salmonella dapat menyebabkan salmonellosis, infeksi bakteri.

    Infeksi ini dapat dihindari dengan memasak makanan secara menyeluruh dan mencegah kontaminasi, serta konsumen harus selalu memasak daging babi secara menyeluruh, kata otoritas pengawas makanan Singapura.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.