TIME Nobatkan Jurnalis Sebagai Person of The Year 2018

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 4 Sampul Person of The Year 2018 Majalah TIME.[TIME]

    4 Sampul Person of The Year 2018 Majalah TIME.[TIME]

    TEMPO.CO, Jakarta - Majalah TIME merilis sampul Person of The Year 2018 dengan tema The Guardians and The War on Truth kepada 4 figur jurnalis yang memperjuangkan kebenaran dan demokrasi.

    Mendiang Jamal Khashoggi, dua jurnalis Reuters, jurnalis Filipina Maria Ressa, dan staf Capital Gazette terpampang pada sampul majalah TIME.

    Baca: Washington Post Terbitkan Tulisan Terakhir Jamal Khashoggi

    Jamal Khashoggi, pria paruh baya gemuk dengan jenggot kelabu, sikap lembut namun berani mengkritik negaranya, telah dipilih TIME atas komitmennya terhadap kebenaran, ungkap Karl Vick dari redaksi Majalah Time, yang dikutip pada 12 Desember 2018.

    Kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, tewas di bunuh tim pembunuh dari Arab Saudi yang berjumlah 15 orang. Middel East Eye

    Menurut TIME, Khashoggi telah mengatakan kepada dunia kebenaran tentang kebrutalan terhadap mereka yang akan berbicara dan dia sendiri akhirnya dibunuh karena itu.

    Khashoggi menaruh keyakinan pada setiap tulisan-tulisannya. Dia menaruhnya pada laporan yang dia lakukan sejak muda, di redaksi surat kabar dia dipaksa keluar dan di kolom yang dia tulis dari pengasingan.

    "Haruskah kita memilih," tulisnya di Washington Post pada Mei. "Antara bioskop dan hak kami sebagai warga negara untuk berbicara, apakah untuk mendukung atau mengkritik tindakan pemerintah kami?"

    Baca: Jurnalis Filipina Dianugerahi Golden Pen of Freedom

    Khashoggi telah meninggalkan tanah airnya tahun lalu meskipun dia sebenarnya mendukung banyak agenda Putra Mahkota Mohammed bin Salman di Arab Saudi. Apa yang menjengkelkan kerajaan dan membunuhnya tak lain karena desakan dari dalam dirinya sendiri, yang mengganggu pikirannya yang mempercayai publik untuk berpikir sendiri.

    Maria Ressa.[Rappler]

    Di Filipina, seorang perempuan berusia 55 tahun bernama Maria Ressa memimpin Rappler, sebuah situs berita daring yang ia dirikan, melalui rintangan dari dua kekuatan yang paling tangguh di jagad informasi, yakni media sosial dan Presiden yang populis dengan kecenderungan otoriter.

    Rappler telah mencatat perang narkoba dengan kekerasan dan pembunuhan di luar hukum terhadap Presiden Rodrigo Duterte yang telah menyebabkan sekitar 12.000 orang tewas, menurut perkiraan Januari dari Human Rights Watch.

    Pemerintah Duterte menolak wartawan Rappler untuk meliputnya, dan pada November menuduh situs itu melakukan penipuan pajak, tuduhan yang dapat mengirim Ressa ke penjara hingga 10 tahun.

    Staf Capital Gazette.[TIME]

    Kemudian publik tentu belum lupa tragedi di Annapolis, AS, ketika lima staf Capital Gazette, surat kabar yang diterbitkan oleh Capital Gazette Communications, yang telah menyampaikan berita kepada para pembaca tentang peristiwa di Maryland bahkan sebelum Revolusi Amerika, ditembak di ruang redaksi mereka pada 28 Juni 2018.

    Baca: Mereka yang Meninggal dalam Penembakan di Capital Gazette

    Ekspresi wartawan Reuters, Kyaw Soe Oo (kiri) dan Wa Lone, saat keluar dari ruang sidang setelah menjalani sidang vonis di Yangon, Myanmar, Senin, 3 September 2018. Keduanya divonis 7 tahun penjara karena dinilai melanggar Undang-Undang Rahasia Myanmar terkait dengan pemberitaan etnis Rohingya. AP Photo/Thein Zaw

    Dan dari sebuah penjara di Myanmar, dua wartawan muda Reuters terpisah dari istri dan anak-anak mereka, menjalani hukuman karena menentang diskriminasi etnis setelah mendokumentasikan pembunuhan 10 orang etnis Rohingya oleh militer pemerintah. Merekalah Kyaw Soe Oo dan Wa Lone yang divonis tujuh tahun. Sementara pembunuh yang mereka liput divonis hukuman 10 tahun penjara.

    Baca: Dipenjara 7 Tahun, Ini Ucapan 2 Jurnalis Reuters soal Myanmar

    Adalah mereka dan lainnya, yang membuat TIME menggubah tema The Guardians and The War on Truth sebagai dedikasi untuk mereka yang menjaga kebenaran dan menjunjung demokrasi.

    "Ada upaya untuk menggerogoti kebenaran faktual, dan ada orang-orang yang secara jujur mencari tahu, mempertanyakan fungsi demokrasi. Itulah mengapa kebebasan berbicara, sengaja ditempatkan di bagian pertama di Bill of Rights," kata redaksional Majalah TIME.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.