Pelanggan Kafe di Sydney Australia Alami Ini saat Memesan Roti

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pelanggan bernama Katherine Chen, yang juga warga Australia, mendapat perlakuan bernuansa rasial saat memesan makanan roti bakar dari sebuah kafe di Surry Hills, Sydney, Australia, baru-baru ini. Mirror

    Seorang pelanggan bernama Katherine Chen, yang juga warga Australia, mendapat perlakuan bernuansa rasial saat memesan makanan roti bakar dari sebuah kafe di Surry Hills, Sydney, Australia, baru-baru ini. Mirror

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang warga Sydney keturunan Cina mengalami pengalaman tidak lazim saat membeli sarapan di sebuah kafe di kawasan Surry Hills, Sydney, Australia, baru-baru ini.

    Katherine Chen bercerita dia memesan roti bakar sederhana untuk dibawa dari kafe itu. Dia juga sempat bercakap-cakap ringan dengan pelayan yang menerima pesanannya.

    Namun, saat hendak membayar roti pesanan di kasir, dia menerima secarik kertas bukti pembayaran namun dengan tulisan yang kurang lazim.

    Di kertas itu tertulis roti yang menjadi pesanannya. Namun, pada bagian atas kertas Chen merasa agak terkejut saat melihat ada tulisan “ASIAN” dalam huruf kapital.

    Ternyata kertas itu seharusnya diberikan pelayan kepada juru masak di dapur namun entah bagaimana malah tertukar dan sampai ke tangan Chen.

    Pelayan di kafe itu menuliskan ras dari Chen dan bukannya menuliskan namanya, yang lazim dilakukan pelayan kafe saat menerima pesanan pelanggan. 

    “Saya tidak tersinggung sepenuhnya. Saya menyadari dalam industri layanan seperti ini terkadang orang butuh cara paling mudah untuk mendeskripsikan pelanggan. ‘Asian’ menjadi cara cepat dan mudah untuk mendeskripsikan diri saya,” kata Chen, yang mengaku sempat merasa geli, kepada situs Whimm.com.au seperti dilansir Mirror.co.uk.

    Namun, Chen juga berpendapat insiden ini menunjukkan adanya persepsi ‘orang lain’ terhadap orang yang berbeda etnis atau ras.

    “Sekiranya saya berkulit putih, kertas itu tidak mungkin akan ditulis ‘kulit putih’ atau ‘Kaukasian’,” kata dia. 

    Menurut Chen, tindakan pelayan tadi sebenarnya tidak perlu terjadi. Pelayan itu bisa dengan mudah menanyakan namanya terlebih suasana di kafe saat itu sedang kosong sehingga ada cukup waktu untuk menanyakan nama. “Saya sempat bercakap-cakap akrab dengan pelayan itu dan mudah bagi dia untuk menanyakan nama saya,” kata Chen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.