Kisah Mantan Atlet Sepak Bola Malaysia Hidup Menggelandang

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang mantan atlet sepak bola untuk tim nasional Malaysia hidup terkatung-katung di jalan. Sumber: Pixabay/asiaone.com

    Seorang mantan atlet sepak bola untuk tim nasional Malaysia hidup terkatung-katung di jalan. Sumber: Pixabay/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang mantan atlet sepak bola yang pernah memperkuat tim nasional Malaysia, hidup terkatung-katung di jalan. Atlet tersebut berusia 40 tahun-an dan tidak mau dipublikasi namanya.

    Dikutip dari asiaone.com, Senin, 3 Desember 2018, mantan atlet sepak bola itu terpaksa hidup menggelandang setiap kali menjalani perawatan di Pusat Kesehatan Jantung Nasional Malaysia atau IJN yang berlokasi di ibu kota Kuala Lumpur. Hal itu terpaksa dilakukannya karena atlet tersebut tidak mampu menyewa kamar hotel.

    Baca: Orang Terkaya RI Jadi Atlet Bridge Asian Games, Apa Alasannya?

    Dia mengaku, uang tabungannya terus berkurang semenjak kondisi kesehatan jantungnya terus memburuk tiga tahun lalu. Kondisi ini telah membuatnya sulit mendapat pekerjaan tetap.

    Di tim nasional sepak bola Malaysia, Atlet tersebut mengisi posisi pertahanan. Bersama tim nasional, atlet itu mengikuti beberapa kali pertandingan.

    Baca: 5 Fakta Soal Orang Terkaya RI Atlet Asian Games 2018

    "Dalam delapan bulan terakhir, saya selalu tinggal di pinggir jalan setiap kali ke Kuala Lumpur untuk menjalani perawatan di IJN," kata atlet tersebut.

    Dia memperkirakan akan hidup menggelandang sampai dia mendapatkan jadwal operasi jantung pada akhir Desember ini. Dia mengaku sudah pernah mencoba tinggal di Pusat Transit Tuna Wisma Kuala Lumpur, namun yang terjadi dia malah menjadi korban pencurian. Tas dan pakaiannya dicuri. Mantan istri dan ketiga anaknya tak ada yang tahu jika atlet ini sekarang hidup terkatung-katung.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.