John Bolton Tolak Dengarkan Rekaman Jamal Khashoggi, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, John Bolton mengikuti rapat dengar perintah Presiden Donald Trump di sebuah ruangan di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 13 April 2018. (AP Photo/Susan Walsh)

    Penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, John Bolton mengikuti rapat dengar perintah Presiden Donald Trump di sebuah ruangan di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 13 April 2018. (AP Photo/Susan Walsh)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penasihat Keamanan Nasional untuk Presiden Donald Trump, John Bolton, menolak mendengarkan rekaman audio pembunuhan Jamal Khashoggi karena dia tidak mengerti bahasa Arab.

    "Apa yang akan saya pelajari dari itu. Jika mereka berbicara bahasa Korea, saya juga tidak akan mengerti apa-apa dari rekaman itu," kata John Bolton di Gedung Putih, dilaporkan Associated Press, 28 November 2018. John Bolton menambahkan dia bisa mendapatkan semua informasi yang dia butuhkan dengan membaca transkrip rekaman.

    Baca: Putra Mahkota Arab Saudi Telepon Presiden Erdogan Ajak Bertemu

    "Orang-orang yang berbicara bahasa Arab telah mendengarkan rekaman itu dan mereka telah memberi kami substansi dari apa yang ada di dalamnya," kata Bolton.

    Jamal Khashoggi, wartawan senior asal Arab Saudi yang tewas dibunuh pada 2 Oktober 2018. Sumber: POMED/cphpost.dk

    Ketika ditekan pada masalah ini, Bolton mengatakan dia yakin dia memiliki pemahaman penuh tentang apa yang ada pada rekaman audio.

    "Saya sangat puas bahwa kami tahu apa yang diambil rekaman itu dan itu diperhitungkan dalam keputusan presiden dan dia mengumumkan putusannya dengan sangat jelas," katanya.

    Rekaman audio beredar cepat di media Turki dan menjadi bukti kunci di tengah teka-teki pembunuhan Jamal Khashsoggi di konsulat Arab Saudi di Turki pada 2 Oktober.

    Baca: Pembunuhan Jamal Khashoggi, Kongres Amerika Bakal Ambil Tindakan

    Para pejabat Saudi awalnya mengklaim Khashoggi meninggalkan konsulat sebelum akhirnya mengatakan dia tewas dalam operasi yang gagal untuk memulangkan penulis secara paksa kembali ke kerajaan.

    Badan-badan intelijen AS telah menyimpulkan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman paling tidak mengetahui tentang rencana untuk membunuh Khashoggi. Ini mendesak anggota Kongres AS untuk mengambil sikap yang lebih keras kepada sekutu utamanya di Timur Tengah.

    Presiden Donald Trump bersama dengan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, 20 Maret 2018. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

    Trump telah mengindikasikan bahwa AS tidak akan menghukum Arab Saudi lebih jauh. Presiden mengatakan, manfaat hubungan baik dengan kerajaan lebih besar daripada mempersoalkan putra mahkota memerintahkan pembunuhan Jamal Khashoggi.

    Dalam pernyataan pekan lalu tentang kemungkinan putra mahkota memerintahkan pembunuhan, Trump mengatakan "mungkin dia melakukannya, mungkin dia tidak."

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sering merujuk pada rekaman audio dalam upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi, yang menjadi pesaing utama regional Turki.

    Baca: Erdogan: Intelijen Saudi Kaget Dengar Rekaman Jamal Khashoggi

    "Rekaman ini benar-benar mengerikan," kata Erdogan di koran pro-pemerintah Yeni Safak.

    "Faktanya, ketika petugas intelijen Arab Saudi mendengarkan rekaman itu dia begitu terkejut sehingga dia berkata 'yang satu ini mungkin memakai heroin. Hanya seseorang yang menggunakan heroin yang akan melakukannya'," tambah Erdogan ketika berbicara soal rekaman detik-detik pembunuhan Jamal Khashoggi yang didengar pejabat intelijen Arab Saudi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.