Konglomerat Michael Bloomberg Donasi Rp 26 Triliun untuk Kampus

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mohammed bon Salman bertemu dengan pendiri Bloomberg dan bekas Wali Kota New York City, Michael Bloomberg. [Anadolu/Saudi Kingdom Council/Handout]

    Mohammed bon Salman bertemu dengan pendiri Bloomberg dan bekas Wali Kota New York City, Michael Bloomberg. [Anadolu/Saudi Kingdom Council/Handout]

    TEMPO.COWashington – Pengusaha dan bekas Wali Kota New York, Michael Bloomberg, mengatakan dia mendonasikan uang dengan jumlah fantastis senilai US$1.8 miliar atau sekitar Rp26 triliun kepada Johns Hopkins University.

    Baca:

     

    Dana itu akan digunakan membantu biaya kuliah bagi mahasiswa berbakat dari kelas ekonomi menengah ke bawah yang mengalami kesulitan keuangan. 

    “Ini akan membuat biaya masuk ke Hopkins menjadi selamanya tanpa pandang bulu. Keuangan tidak bakal menjadi faktor dalam membuat keputusannya,” kata Bloomberg dalam artikel yang ditulis dipublikasikan di media New York Times seperti dikutip USA Today pada Senin, 19 November 2018 waktu setempat.

    Ini merupakan sumbangan terbesar untuk pendidikan dalam sejarah lembaga pendidikan di AS. Bloomberg pernah berkuliah di Johns Hopkins dan lulus pada 1964.

    Baca:

     

    “Hopkins telah merima hadiah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bersifat transformatif,” kata Ronald J. Daniels, Presiden Johns Hopkins, dalam pernyataannya.

    Bloomberg bercerita bahwa dia juga pernah menerima pinjaman pendidikan sebesar US$6000 (sekitar Rp90 juta) dari lembaga National Defense untuk kuliah di Hopkins. Dia juga bekerja paruh waktu di kampus mengurus parkir untuk mendapatkan tambahan uang.

    Baca:

     

    Bloomberg, yang disebut CNN sebagai salah satu tokoh calon kandiaat Presiden AS 2020 dan tercantum sebagai orang terkaya 10 di AS versi Forbes, menjelaskan ijazah yang diterimanya dari Hopkins memberinya kesempatan yang diinginkannya untuk membantu para siswa yang memiliki bakat tapi mengalami kekurangan keuangan untuk kuliah di universitas itu.

    “Ketika universitas mengkaji aplikasi dari calon mahasiswa, nyaris semuanya mempertimbangkan kemampuan siswa untuk membayar biaya kuliah,” tulis Bloomberg dalam artikel di New York Times.

    Ini membuat calon siswa yang berbakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah selalu ditolak mendaftar di universitas. Kursi di kampus disimpan untuk para mahasiswa yang datang dari keluarga kaya.

    “Ini melukai putra seorang petani di Nebraska seperti juga putri seorang ibu pekerja di Detroit,” kata Bloomberg dalam artikel itu menjelaskan.

    Baca:

     

    Bloomberg juga mendukung pemerintah untuk bersikap aktif membantu pendanaan bagi para siswa berbakat tapi kurang mampu, mendorong sekolah menyediakan dana bantuan pendidikan lebih besar, dan mengajak para alumni berdonasi ke sekolah yang menjadi almamaternya.

    “Mungkin tidak ada investasi yang lebih baik yang bisa kita lakukan untuk masa depan mimpin Amerika, dan janji kesempatan yang sama bagi semua,” kata Bloomberg soal donasi yang diberikannya itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.