Satu Anak Yaman Meninggal Setiap 10 Menit

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sara yang berusia 10 tahun, dirawat di rumah sakit al Thawra di Hodeidah, Yaman. Ia setengah lumpuh akibat difteri, penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. [UNIICEF via NPR]

    Sara yang berusia 10 tahun, dirawat di rumah sakit al Thawra di Hodeidah, Yaman. Ia setengah lumpuh akibat difteri, penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. [UNIICEF via NPR]

    TEMPO.CO, Jakarta - PBB menyatakan akibat perang di Yaman, rata-rata setiap 10 menit satu anak Yaman meninggal.

    Tercatat 400.000 anak-anak kelaparan dan 1,5 juta lainnya mengalami kekurangan gizi akut dan membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup.

    Dua minggu lalu, Sara, yang masih berusia 10 tahun, duduk di tempat tidurnya di salah satu rumah sakit di Hodeidah, Yaman.

    Baca: Kisah Pilu Bocah 7 Tahun Meninggal Kelaparan di Yaman

    Beberapa dari anak-anak lain di bangsal itu didampingi ibu mereka atau anggota keluarga lainnya.

    Tapi Sara sendirian.

    Dia sedang memulihkan diri dari infeksi bakteri langka, yang disebut difteri, yang telah melumpuhkan sebagian dari tubuhnya. Sebuah lubang kecil yang dibuat dokter di tenggorokannya membantunya bernafas.

    Baca: Dilanda Kelaparan, Warga Yaman Terpaksa Makan Daun

    "Seakan itu belum cukup ... dia mendengar penembakan terjadi di luar rumah sakit," kata direktur regional UNICEF Geert Cappelaere pada konferensi pers, seperti dilaporkan NPR, 16 November 2018.

    "Bayangkan apa yang dipikirkan gadis kecil ini."

    Vaksin bisa dengan mudah mencegah infeksi Sara.

    "Tetapi kedua pihak konflik telah mencegah kami mengirimkan vaksin yang menyelamatkan hidup ini kepada anak-anak di Yaman," kata Cappelaere, yang mengunjungi Sara dan 56 anak lainnya di rumah sakit Hodeidah. Dua puluh lima berada di unit perawatan intensif. Berjuang untuk hidup.

    Perawat menggendong seorang anak yang kekurangan gizi di pusat perawatan malnutrisi di Sanaa, Yaman, 7 Oktober 2018. Perang Yaman yang berkepanjangan membuat harga pangan melonjak dan memaksa jutaan orang ke jurang kemiskinan. REUTERS/Khaled Abdullah

    Selama tiga setengah tahun terakhir konflik di Yaman, antara pemerintah yang didukung Arab Saudi dan pemberontak Houthi yang didukung Iran, telah berubah menjadi sesuatu di luar perang sipil.

    "Ini telah menjadi perang terhadap anak-anak," kata Cappelaere. "Yaman telah menjadi neraka di bumi bagi jutaan anak-anak."

    Baca: UNICEF: Perang Yaman Neraka Bagi Kehidupan Anak

    Sekarang Cappelaere bersama pemimpin PBB dan WHO khawatir bahwa bantuan menyelamatkan nyawa terancam.

    Hanya beberapa hari setelah Cappelaere meninggalkan rumah sakit, pertempuran di Hodeidah menjadi sangat parah sehingga petugas kesehatan tidak dapat lagi mengakses rumah sakit. Banyak pasien, termasuk Sara, cepat dievakuasi.

    Dalam foto 25 Agustus 2018 ini, seorang pria memberi makan anak-anak dengan Halas, tanaman merambat berdaun hijau, di Aslam, Haji, Yaman. Orang Yaman di kantong terpencil di utara terpaksa makan daun rebus dari pohon anggur lokal untuk mencegah kelaparan, tanpa mendapat akses bantuan internasional. (Foto AP / Hammadi Issa)

    Pertempuran memblokir makanan, obat-obatan dan perlengkapan lain yang datang ke Yaman, kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di radio Prancis Inter.

    Sebagai pelabuhan utama di Laut Merah, kota Hodeidah adalah jalur penyelamat bagi bantuan kemanusiaan di Yaman. Delapan puluh lima persen makanan di negara itu biasanya melewati pelabuhan ini, kata WHO

    Baca: Bencana Kelaparan Makin Parah, Yaman Diprediksi Hancur Total

    "Jika pelabuhan di Hodeidah hancur, itu bisa menciptakan situasi yang benar-benar dahsyat," kata Guterres.

    Kehancuran Hodeidah bisa menyebabkan 12 juta warga Yaman terancam kelaparan, kata Suze van Meegen, penasihat perlindungan dan advokasi di Yaman untuk Badan Pengungsi Norwegia. Ini berarti juga mengancam 400 ribu jiwa anak-anak Yaman yang kelaparan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.