Rabu, 21 November 2018

Abaikan Gencatan Senjata AS, Koalisi Arab Kembali Bom Yaman

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang memeriksa kerusakan salah satu rumah setelah hancur oleh serangan udara di ibu kota Yaman, Sanaa, 25 Februari 2016. [REUTERS / Mohamed al-Sayaghi]

    Orang-orang memeriksa kerusakan salah satu rumah setelah hancur oleh serangan udara di ibu kota Yaman, Sanaa, 25 Februari 2016. [REUTERS / Mohamed al-Sayaghi]

    TEMPO.CO, Jakarta - Koalisi Arab Saudi mengembom bandara internasional Yaman setelah AS menuntut agar diadakan perundingan damai antara kedua kubu.

    Koalisi Arab Saudi dari aliansi militer Saudi-UEA yang berperang melawan Houthi Yaman mengatakan telah membom Bandara Internasional Sanaa dan pangkalan udara di dekatnya yang diduga digunakan untuk meluncurkan serangan rudal balistik dan drone.

    Baca: Didesak Amerika Serikat, Yaman Siap Akhiri Perang Sipil

    Kolonel Turki al-Malki, juru bicara Koalisi Arab, seperti dilaporkan pada Jumat 2 November, mengatakan penerbangan di bandara dan upaya bantuan internasional tidak terpengaruh karena serangan udara ini.

    Dia mengatakan kepada televisi al-Ekhbaria bahwa pihak koalisi akan menggelar konferensi pers untuk membuktikan bahwa bandara itu digunakan oleh Houthi untuk melancarkan serangan.

    Seorang pria bediri di dekat mobil yang hancur akibat serangan udara koalisi Arab Saudi di Amran, Yaman, 25 Juni 2018. REUTERS/Khaled Abdullah

    Outlet berita Al-Masirah yang berafiliasi dengan Houthi tidak menjawab klaim aliansi, tetapi melaporkan bahwa lebih dari 30 serangan menargetkan pangkalan udara al-Dulaimi di Sanaa dan sekitarnya.

    Namun sumber di ibu kota mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jumlah serangan berjumlah 20.

    Baca: Kenapa Yaman Dilanda Perang?

    Serangan udara terjadi hanya beberapa jam setelah pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan siap untuk memulai kembali pembicaraan damai dengan Houthi.

    Pemerintah Yaman mengatakan pada Kamis bahwa pihaknya menyambut semua upaya untuk memulihkan perdamaian setelah AS dan PBB menyerukan kepada pihak yang bertikai untu negosiasi yang direncanakan di Swedia akhir bulan ini.

    Menteri Pertahanan AS James Mattis dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menuntut gencatan senjata, termasuk serangan udara, yang menyebabkan banyak warga sipil tewas.

    Seorang tentara bersama warga melihat reruntuhan bangunan Istana Kepresidenan Yaman yang rusak akibat serangan udara koalisi Arab Saudi di Sanaa, Yaman, 7 Mei 2018. AP

    Nasser Arrabyee, seorang Jurnalis Yaman yang berbasis di Sanaa, mengatakan tenggat waktu 30 hari yang diberikan AS untuk negosiasi ditafsirkan oleh Koalisi Arab untuk mengintensifkan serangan udara mereka dan merebut kembali wilayah Yaman dari para pemberontak Houthi.

    Baca: Qatar Dukung Amerika Serikat untuk Gencatan Senjata di Yaman

    "Saat ini, Houthi bersedia melakukan negosiasi karena solusi yang dinegosiasikan adalah kemenangan bagi mereka," kata Arrabyee.

    Sebelumnya Menteri Pertahanan AS James Mattis menyerukan gencatan senjata di Yaman selama 30 hari ke depan selama diskusi di U.S. Institute of Peace (USIP) pada Selasa 30 Oktober, seperti dilaporkan CBS News.

    Mattis mengatakan kepada mantan penasihat keamanan nasional Bush, Stephen Hadley, bahwa satu-satunya cara menyelesaikan konflik ini adalah konflik dengan gencatan senjata dan negosiasi.

    Baca: Bencana Kelaparan Makin Parah, Yaman Diprediksi Hancur Total

    Perang saudara Yaman antara Koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi dukungan AS dan pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran, telah menghancurkan Yaman sejak perang pecah pada 2015. Pada Agustus, PBB mengeluarkan laporan yang menuduh serangan Koalisi Arab menyebabkan kehancuran bagi warga sipil, dan AS mengatakan Yaman berada di ambang kelaparan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.