Rabu, 21 November 2018

Mahasiswa Asal Cina yang Kuliah di Amerika Turun, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Widener Library di kampus Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 30 Juni 2015. Nama Harvard diambil dari nama John Harvard, penyumbang terbesar universitas tersebut, yang merupakan lulusan Universitas Cambridge, Inggris. Victor J. Blue/Bloomberg via Getty Images

    Gedung Widener Library di kampus Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 30 Juni 2015. Nama Harvard diambil dari nama John Harvard, penyumbang terbesar universitas tersebut, yang merupakan lulusan Universitas Cambridge, Inggris. Victor J. Blue/Bloomberg via Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Tren mahasiswa asal Cina yang melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat, khususnya pendidikan S1, mengalami penurunan. Kondisi ini telah menimbulkan kekhawatiran banyak universitas di Amerika Serikat terkait revenue dan penelitian akademik.

    Dalam satu dekade, tren mahasiswa asal Cina di level S1 yang melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat konsisten tumbuh dengan cepat. Namun sejak 2017, untuk pertama kali terjadi penurunan.

    Menurut Rahul Choudaha, peneliti dari Pusat Study Pendidikan Tinggi di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, beberapa universitas bahkan mengalami penurunan yang sangat signifikan terkait penerimaan mahasiswa baru asal Cina. Penurunan signifikan terjadi pada fakultas ilmu pengetahuan, teknologi, mesin dan matematika.

    Baca: Kemendikbud Tawarkan 3 Kunci Pendidikan di Hari Anak Nasional

    Sejumlah mahasiswi belajar di Harvard Yard, kawasan berumput, di kampus Harvard University di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 30 juni 2015. Kampus ini memiliki arela berumput seluas 9,1 hektar. Victor J. Blue/Bloomberg via Getty Images

    Baca: Bandingkan Cina, KPK: 14 Sekolah Kedinasan Harus Antikorupsi

    Berdasarkan analisa data Yayasan Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat, jumlah mahasiswa S1 dari Cina di program pendidikan non-ilmu pengetahuan dan non-teknik turun 1.920 pada 2017 dibanding 2016.

    "Pada 2006, jumlah mahasiswa S1 dari Cina di Amerika Serikat sebesar 10.000 orang dan pada 2016 naik menjadi 142 ribu. Namun sekarang penurunan mulai terjadi," kata Choudaha, seperti dikutip dari asiaone.com, Minggu, 14 Oktobe 2018.

    Dia mengatakan ada banyak faktor yang menjadi penyebab perubahan ini. Salah satunya, rethorika anti-imigran dan iklim di Amerika Serikat yang tidak bersahabat.

    "Dalam pemilu 2016, Presiden Donald Trump telah mengubah arah bagaimana membuat Amerika Serikat sebagai sebuah negara. Pada level pendidikan S1, keluarga membuat keputusan berdasarkan pilihan anak dan keamanan mereka," kata Choudaha.

    Berbagai larangan, termasuk pembatasan perpanjang visa bagi mahasiswa asal Cina dan lingkup penelitian di area sensitif bagi kedua negara, telah menjadi hambatan. Financial Times dalam laporannya belum lama ini menyebut, pemerintahan Trump menolak banyak proposal pendidikan mahasiswa dari Cina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.