Minggu, 21 Oktober 2018

Yunani Larang Wisatawan Gemuk Tunggangi Keledai di Santorini

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menunggangi keledai adalah wahana populer di tempat wisata Santorini, Yunani. [stuff.co.nz]

    Menunggangi keledai adalah wahana populer di tempat wisata Santorini, Yunani. [stuff.co.nz]

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam upaya memperjuangkan hak-hak hewan, pulau Santorini di Yunani melarang wisatawan gemuk dengan berat badan lebih dari 100 kilogram menunggangi keledai.

    Dilansir dari Sputniknews, 11 Oktober 2018, larangan naik keledai ini diumumkan setelah aktivis hewan mengatakan bahwa keledai yang dinaiki oleh wisatawan banyak yang menderita cedera tulang belakang dan luka terbuka dari pelananya.

    Baca: Sebut Yunani Lebih Baik Dikuasai Jerman, Menteri Jerman Dikecam

    Wisatawan yang mengunjungi pulau Santorini, yang terkenal dengan medan berbukitnya, sering naik keledai untuk menuju ke atas dari pantai ke kota utama pulau Fira. Namun, wisatawan yang ingin menunggang keledai sekarang harus menimbang berat badan dan harus kurang dari seperlima dari berat badan keledai atau sekitar 100 kilogram.

    Yunani melarang para wisatawan gemuk menunggangi keledai setelah para aktivis mengatakan hewan-hewan itu menderita cedera tulang belakang (Caters News Agency via Metro.co.uk)

    Menurut Kementerian Pembangunan Pedesaan dan Makanan Yunani, hewan-hewan tidak boleh dibebani dengan berat yang berlebihan dalam ukuran, usia atau kondisi fisik.

    Aturan itu dilembagakan setelah departemen menerima banyak keluhan tentang efek buruk dari beban berat pada hewan, terutama selama musim panas yang ramai.

    Sebuah petisi yang digagas Holly Ann yang dibuat sekitar setahun yang lalu di Change.org menyatakan, "Pulau (Santorini) memiliki jalur panjang yang membentang dari pelabuhan di bawah ke pusat kota di bagian atas batu vulkanik."

    Baca: Indonesia - Yunani Terapkan Bebas Visa Paspor Diplomatik

    "Terlepas dari kenyataan bahwa jaraknya hanya 30 menit berjalan kaki (tergantung pada seberapa cepat Anda atau berapa lama waktu yang dibutuhkan saya) atau 2 menit dengan kereta gantung, keledai ini digunakan sebagai transportasi kejam bagi orang-orang yang menginginkan pengalaman asli Yunani asli," tambah isi petisi tersebut.

    "Keledai-keledai ini dipaksa berdiri di bawah sinar matahari di kotoran mereka sendiri di sisi jalan dan semua yang mereka lakukan adalah naik turun, naik turun membawa orang-orang yang terlalu malas untuk hanya berjalan atau naik kereta gantung. Selain itu , para petani memberi mereka cambuk untuk membuat mereka lebih cepat di jalan ketika membawa turis dll," lanjut Petisi, yang saat ditutup memiliki lebih dari 100.000 tanda tangan.

    Aturan baru menyatakan bahwa keledai wisata di Santorini seharusnya tidak membawa beban yang lebih berat dari 100 kilogram atau seperlima dari berat badan mereka. (Caters News Agency via Metro.co.uk]

    Direct Action Everywhere, sebuah jaringan aktivis hak asasi manusia internasional yang didirikan di San Francisco Bay Area, juga memuji larangan tersebut.

    Lembaga perlindungan satwa PETA juga membuat petisi yang dirilis di situs web mereka yang disebut, "Keledai di Santorini Disalahgunakan dan Digunakan sebagai Taksi: Tolong Bantu Mereka!"

    Baca: 6 Hal Unik di Santorini, Lokasi Bulan Madu Tasya Kamila

    "Ketika keledai tidak dibuat untuk membawa turis gemuk di punggung mereka dan dipukuli dengan tongkat, bahkan ketika mereka sakit atau terluka, mereka masih menderita...PETA telah menjelaskan bahwa Santorini, Yunani, harus menghentikan wahana ini, dan kami menyerukan kepada wisatawan untuk menolak berpartisipasi dalam penyalahgunaan ini dan untuk menggunakan pelabuhan kereta gantung sebagai gantinya," menurut Direktur Program Internasional PETA Foundation Inggris, Mimi Bekhechi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.