Google Batal Ikut Proyek Awan Pentagon Rp 150 Triliun, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pentagon di Washington. REUTERS/Yuri Gripas

    Pentagon di Washington. REUTERS/Yuri Gripas

    TEMPO.CO, San Fransisco – Induk perusahaan Google yaitu Alphabet menyatakan tidak lagi berminat memenangkan proyek pembuatan layanan awan atau cloud senilai US$10 miliar atau sekitar Rp152 triliun, yang digelar Pentagon. Alasannya, panduan etika perusahaan tidak lagi selaras dengan proyek militer ini.

    Baca:

     

    “Kami tidak bisa meyakini bahwa proyek JEDI ini akan selaras dengan prinsip Aritificial Intelligence kami dan kedua kami memutuskan ada bagian dari kontrak yang tidak sesuai dengan sertifikasi pemerintah yang kami miliki,” begitu pernyataan manajemen Alphabet seperti dilansir Reuters pada Selasa, 9 Oktober 2018.

    Baca:

     

    Google memiliki prinsip pengembangan AI yang melarangnya terlibat dalam pengembangan piranti lunak untuk senjata. Google juga terikat untuk tidak terlibat dalam layanan yang melanggar norma internasional seperti penyadapan dan HAM.

    Pada Maret 2018, Google mendapat sertifikasi untuk mengelola data pemerintah AS dengan akses keamanan medium. Tapi, dua perusahaan kompetitor di bidang teknologi canggih yaitu Amazon.com dan Microsoft Corp memiliki akses keamanan lebih tinggi.

    Baca:

     

    Saat ini, perusahaan ritel online Amazon, yang memiliki layanan cloud Amazon Web Services, dinilai para pengamat sebagai yang terdepan untuk memenangkan proyek JEDI dari Pentagon ini, yang merupakan singkatan dari layanan awan Joint Enterprise Defense Infrstructure.

    Menurut media teknologi Techcrunch, Amazon memiliki rekam jejak dibidang layanan awan untuk pertahanan karena perusahaan yang didirikan Jeff Bezoss ini membangun layanan awan untuk CIA beberapa waktu lalu.

    Baca:

     

    Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon hanya memilih satu vendor untuk pengerjaan proyek besar ini karena jika menggunakan banyak vendor akan membutuhkan banyak waktu koordinasi sehingga memperlambat penyelesaiannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.