Selasa, 23 Oktober 2018

Murid Perempuan di Inggris Makin Banyak Alami Pelecehan Seksual

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lebih dari satu per tiga murid-murid perempuan di Inggris pernah mengalami pelecehan seksual saat mengenakan seragam sekolah. Fakta itu terungkap lewat sebuah riset yang dilakukan oleh Plan International Inggris. Sumber: Aura/Getty Images/newsweek.com

    Lebih dari satu per tiga murid-murid perempuan di Inggris pernah mengalami pelecehan seksual saat mengenakan seragam sekolah. Fakta itu terungkap lewat sebuah riset yang dilakukan oleh Plan International Inggris. Sumber: Aura/Getty Images/newsweek.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Lebih dari sepertiga murid-murid perempuan di Inggris pernah mengalami pelecehan seksual saat mengenakan seragam sekolah. Fakta itu terungkap lewat sebuah riset yang dilakukan oleh Plan International Inggris.

    Dikutip dari newsweek.com pada Selasa, 9 Oktober 2018, riset yang dilakukan Plan International menemukan dua pertiga murid perempuan mengalami kontak seksual atau pelecehan yang tidak diinginkan ketika mereka berusia 12 tahun atau bahkan lebih muda. Temuan ini dinilai para pemimpin Inggris sangat mengerikan dan tak bisa diterima sehingga harus segera dilakukan sebuah langkah nyata.

    Baca: Modus Pelecehan Seksual Murid TK Internasional

    "Yang paling mengejutkan dari semuanya, anak perempuan berusia 11 tahun harus menghadapi pelecehan seksual di tempat-tempat umum. Kita perlu memiliki strategi yang lebih jelas untuk mengatasi ini karena ini benar-benar tidak dapat diterima," kata Maria Miller, anggota parlemen Inggris dan ketua Komite Perempuan dan Kesetaraan.

    Mary Bousted, Sekretaris Jenderal Gabungan Serikat Pendidikan Nasional Inggris, mengatakan pihaknya sangat yakin masalah pelecehan ini sudah semakin buruk. Bousted pun prihatin semua pencapaian yang didapat pada 1970-an dan 1980-an oleh kelompok feminisme telah tergerus.

    Baca: Kasus Pelecehan Seksual, Kelas di JIS Penuh

    "Fokus dan perhatian di hampir sebagian besar sekolah di Inggris hanya terpusat pada kurikulum akademis. Banyak sekolah tidak diberikan kesempatan dan ruang untuk memikirkan tumbuh kembang murid mereka akan seperti apa di masa mendatang," ujarnya.

    Semakin memburuknya tindak pelecehan seksual terhadap murid perempuan di Inggris dibenarkan oleh Natasha, 25 tahun, yang tak mau dipublikasi nama keluarganya. Dia menceritakan kepada para peneliti bahwa dirinya sangat kesal ketika seorang laki-laki bersiul pada adik perempuannya yang berumur 10 tahun, yang sedang mengenakan seragam sekolah.

    “Bagaimana bisa pria tersebut tidak melihat bahwa mereka adalah anak-anak?,” ujarnya.

    Menyusul tindak pelecehan seksual ini, sejumlah orang tua murid terpaksa mengambil langkah sendiri. Nyasha, 14 tahun, menceritakan ibunya telah melarangnya keluar menggunakan seragam sekolah lagi.

    Survei Plan International Inggris ini dilaksanakan pada Juni 2018 terhadap 1.000 perempuan berusia 14 hingga 21 tahun. Mereka bertanya kepada para responden pengalaman terkait pelecehan seksual di Inggris.

    Hasil jajak pendapat itu mengungkap sebanyak 66 persen responden mengatakan telah mengalami tatapan seksual yang tidak diinginkan dan kontak seksual di tempat umum. Sebanyak 35 persen responden melaporkan mengalami tindakan pelecehan seksual seperti disentuh, diraba atau dicengkram.

    Tanya Barron, Kepala Eksekutif Plan International UK, mengatakan hasil survei ini sangat mengejutkan dan sangat memprihatinkan. Menurutnya, sangat sulit menerima kenyataan bahwa perempuan seusia 12 tahun di siul di depan umum, disentuh tanpa izin, ditatapi dan bahkan diikuti. Tindak pelecehan seksual ini perlu didiskusikan dan dihentikan.

    NEWSWEEK | SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.