Modi dan Putin Bertemu, Bahas Rudal S-400 Senilai Rp 76 Triliun

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia, Vladimir Putin (kiri) dan Perdana Menteri India, Narendra Modi (kanan) saat keduanya bertemu di New Delhi pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 waktu setempat, untuk kerja sama 20 bidang. Indian Express

    Presiden Rusia, Vladimir Putin (kiri) dan Perdana Menteri India, Narendra Modi (kanan) saat keduanya bertemu di New Delhi pada Kamis malam, 4 Oktober 2018 waktu setempat, untuk kerja sama 20 bidang. Indian Express

    TEMPO.CO, New Delhi – Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, bakal menandatangani sekitar 20 kesepakatan kunci termasuk pembelian rudal canggih dalam pertemuan mereka hari ini, Jumat, 5 Oktober 2018. Putin sedang dalam kunjungan dua hari di New Delhi sejak Kamis, 4 Oktober 2018.

    Baca:

     

    “Kerja sama kedua negara meliputi pertahanan, energi nuklir, luar angkasa dan ekonomi, termasuk penandatanganan pembelian sistem anti-serangan udara S-400 oleh India,” begitu dilansir India Express dan NDTV pada Jumat, 5 Oktober 2018.

    Baca:

     

    India berencana membeli S-400 dengan nilai mencapai sekitar US$5 miliar atau sekitar Rp76 triliun. Sistem ini akan dipasang dipasang di perbatasan 4000 kilometer antara India dan Cina, yang kerap dilanda konflik perbatasan.

    Menurut NDTV, pembelian sistem rudal canggih ini bakal membuat India bisa terkena sanksi AS, yang menerapkan UU Penerapan Sanksi untuk Melawan Musuh AS atau CAATSA. UU ini kerap digunakan AS untuk memberi sanksi negara-negara yang menjalin kerja sama pertahanan signifikan dengan Rusia, Korea Utara dan Iran.

    India juga bakal membeli 4 unit kapal frigate dari Rusia untuk kelas Krivak senilai US$2.5 miliar atau sekitar Rp38 triliun. 2 kapal ini akan dibuat di India. Menurut NDTV, Modi dan Putin juga akan membahas sejumlah isu global seperti sanksi AS atas negara-negara yang mengimpor minyak mentah Iran.

    Baca:

     

    Rusia merupakan sekutu Iran dalam perang sipil di Suriah. Kedua negara ini, dalam kesempatan berbeda, mengatakan akan menggunakan mata uang nasional dalam ekspor dan impor dan menghindari penggunaan dolar terkait sanksi dari AS. Militer Cina baru-baru ini terkena sanksi dari AS karena memborong sejumlah sistem senjata canggih dari Rusia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.