Pemerintah Beijing Tutup Semua Lokasi Hiburan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Beijing:Pemerintah Beijing menutup semua bioskop, gedung pertunjukan, tempat hiburan karaoke, serta kafe internet. Mereka berharap tindakan itu dapat mengurangi penyebaran virus severe acute respiratory syndrome (SARS). Jadi, sejak Sabtu (26/4) lalu, warga Beijing tak bisa lagi menikmati suguhan hiburan di kota mereka. Pemerintah melihat kumpulan massa dalam jumlah besar di lokasi-lokasi hiburan turut mendukung penyebaran wabah pernapasan akut parah di ibu kota Cina itu. Biro Kebudayaan setempat menyatakan, gedung-gedung yang digunakan adalah tempat yang pas bagi virus SARS mencaplok mangsa. Ventilasi yang digunakan memungkinkan virus terlokalisasi dan menginfeksi orang yang keluar-masuk tempat itu. Berapa lama penghentian kegiatan belum bisa dipastikan. Namun, biro itu berjanji akan mengizinkan pebisnis hiburan beraktivitas kembali jika wabah sudah bisa dapat ditaklukkan. Bukan hanya penikmat seni dan tontonan yang harus gigit jari. Penyuka buku atau media sejenisnya pun harus menahan keinginan mendapatkan bacaan lengkap. Pasalnya, pemerintah juga menutup perpustakaan publik hingga 8 Mei mendatang. Sejak minggu lalu, sekolah dasar, menengah, dan universitas pun mengalami hal yang sama. Dua rumah sakit utama di kota itu bahkan telah diisolasi sehingga lebih dari 4.000 warga Beijing dikarantina agar jumlah kasus SARS Beijing tak bertambah. Sehari setelah Beijing menutup tiap titik rawan SARS, Menteri Kesehatan baru Cina Wu Yi mulai melakukan pekerjaannya. Ia mengawalinya dengan memperingatkan para staf Departemen Kesehatan untuk segera menanggulangi SARS jika tak ingin menghadapi hukuman. Wu Yi, yang juga Wakil Perdana Menteri Cina, dijuluki Wanita Besi Cina oleh publik. Julukan "garang" itu pun terlihat saat ia mengambil alih kepemimpinan Kementerian Kesehatan yang ditinggalkan Zhang Wengkang secara resmi pada Sabtu lalu. "Setiap staf di pemerintah kota yang ketahuan menolak tugasnya akan dihukum," ancam Wu. Seperti diketahui, Zhang Wengkanglah yang disalahkan atas membludaknya jumlah pasien SARS di Cina. Ia juga dituding sebagai orang yang menginstruksikan upaya menutup-nutupi wabah di Provinsi Guangdong. Penyakit berbahaya ini setidaknya telah membunuh 293 orang dan menginfeksi hampir 5.000 orang di seluruh dunia. Kebanyakan dari mereka adalah penduduk Asia. Cina sendiri telah mencatatkan 122 warga yang meninggal berikut 2.700 kasus positif SARS. "Perlawanan" Cina terhadap pneumonia akut dinilai menjadi kunci utama untuk menanggulangi ketakutan akan SARS yang kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kabinet Cina pekan lalu menginstruksikan sejumlah tim ke penjuru negara itu untuk memastikan pencatatan jumlah pengidap SARS dengan akurat. Langkah itu diambil setelah kritik pedas muncul dari dunia internasional yang menuding Cina menutup-nutupi situasi SARS yang sebenarnya. Setelah beberapa bulan tutup mulut, Pemerintah Cina akhirnya mengambil langkah dramatis dengan membeberkan keadaan di negaranya dengan jujur. Menanggapi keberanian itu, Presiden AS George W. Bush melalui percakapan telepon dengan Presiden Cina Hu Jintao menawarkan bantuannya. Bush mengisyaratkan dukungan dan pertolongan AS dalam bentuk apa pun yang memungkinkan. Orang nomor satu di Gedung Putih ini menilai pemerintah Cina sudah bekerja luar biasa. Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan kepada para pelancong agar tidak mengunjungi Beijing, Provinsi Shanxi, dan Toronto, Kanada, yang menjadi wilayah dengan jumlah pengidap SARS terbesar. (AFP/Sri Wahyuni)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.