Senin, 10 Desember 2018

Duta Besar Schoof: Jerman Aman bagi Semua Agama dan Suku

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof, kiri, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas T. Lembong, kanan, dalam acara peringatan hari bersatunya Jerman barat dan Jerman timur, Rabu, 3 Oktober 2018. Sumber: TEMPO/SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA

    Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof, kiri, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas T. Lembong, kanan, dalam acara peringatan hari bersatunya Jerman barat dan Jerman timur, Rabu, 3 Oktober 2018. Sumber: TEMPO/SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof, memastikan Jerman adalah negara toleran yang dibuktikan ketika pada 2015 atau saat gelombang pengungsi mulai berdatangan, hampir 1 juta pengungsi di terima Jerman.

    "Kami memberikan mereka makanan, namun memang ada sejumlah area di Jerman yang awalnya menilai pengungsi ini berbahaya, ini pun sama seperti yang terjadi di negara Eropa lainnya. Sebagai satu kesatuan masyarakat kami harus memastikan para pengungsi ini bagian dari kami. Moto peringatan hari bersatunya Jerman barat dan timur pada 2018 pun berjudul : only with you. Ini punya arti spesifik bahwa pengungsi bersama kami, kami ingin mereka bersama kami, ini pesan penting," kata Schoof, Rabu malam, 3 Oktober 2018, disela-sela peringatan hari bersatunya Jerman barat dan Jerman timur.

    Disinggung soal rasisme di Jerman, Duta Besar Schoof mengatakan tidak melihat rasisme di Jerman meningkat. Rasisme adalah masalah kecil yang memperlihatkan pentingnya pendidikan politik. Di sekolah-sekolah di Jerman, murid-murid telah diajarkan mengenai toleransi, prinsip demokrasi dan melindungi minoritas.

    "Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari Jerman saat ini. Jerman masih menjadi tempat yang aman bagi semua agama dan suku bangsa," kata Schoof.

    Baca: Begini Jadinya Isi Supermarket Jika Rasisme Menang di Jerman

    Presiden Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan pemain sepak bola Arsenal, Mesut Ozil di London, Inggris 13 Mei 2018. Gambar diambil 13 Mei 2018. ]Kayhan Ozer / Istana Kepresidenan via REUTERS]

    Baca: Mesut Ozil: Saya Mundur Karena Rasisme dan Tidak Dihargai

    Sebelumnya pada Agustus 2018, dunia olahraga Jerman dikejutkan dengan keputusan pemain sepak bola Mesut Ozil, yang mengundurkan diri dari tim nasional sepak bola Jerman. Dia mengatakan rasisme dan sikap tidak hormat telah dialaminya sehingga mendorongnya untuk mengundurkan diri.

    "Saya Jerman ketika menang, tetapi seorang imigran ketika kalah," kata Ozil.

    Dikutip dari telegraph.co.uk, foto Ozil yang berpose dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebelum Piala Dunia 2018 di Rusia, telah menjadi kontroversi di. Ozil lahir di Gelsenkirchen, Jerman dari orang tua keturunan Turki.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.