Internet Ubah Hidup Kakak Beradik Penyandang Disabilitas

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga bersaudari difabel di Cina. Scmp.com

    Tiga bersaudari difabel di Cina. Scmp.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Peng Yan, 31 tahun, Peng Jiangqiu, 28 tahun dan Peng Jiangdan, 25 tahun, merupakan kakak beradik penyandang disabilias. Hidup mereka saat ini telah berubah berkat internet. 

    Dikutip dari scmp.com pada Selasa, 2 Oktober 2018, ketiga kakak-beradik itu berasal dari kabupaten Chongqing, sebuah wilayah pinggir di selatan Cina. Ketiganya tak bisa berjalan dan tidak pernah mengenyam pendidikan. Meski tak pernah sekolah, namun ketiganya bisa membaca dengan belajar dari tulisan yang sering muncul di televisi. Sebelum mengenal internet dan media sosial, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya berbaring di tempat tidur atau menonton televisi.

    Baca: 7 Persiapan Penyandang Disabilitas Sebelum Travelling

    “Meski pun kami penyandang disabilitas dan tidak pernah bersekolah, tetapi jiwa kami sehat. Kami suka menyanyi dan melakukan kebaikan. Kami adalah sebuah keluarga yang hangat. Kami menyayangi orang tua kami dan adik bungsu kami. Kami pun senang berteman,” kata Jiangqiu dan Yan.

    Ayah ketiga bersaudara itu, Peng Boxiang, 57 tahun, adalah seorang kuli bangunan yang terpaksa pensiun setelah mengalami kecelakaan kerja 16 tahun silam. Istri Boxiang, 54 tahun, Jiang Tinglan, bekerja sebagai pengasuh bayi di sebuah kota yang letaknya puluhan kilometer dari tempat tinggal mereka dan hanya bisa pulang sebulan sekali.

    Baca: Cara Penyandang Disabilitas Gratis Nonton Asian Para Games 2018

    Ketiga anak-anak Boxiang dan Tinglan mengalami penyakit pengeroposan tulang, sebuah penyakit yang dialami satu dari 15 ribu masyarakat Cina. Ketiga kakak beradik itu mengalami rasa sakit yang tingkatnya bisa sangat nyeri karena pengeroposan tulang. Kendati begitu, mereka optimis kondisi mereka akan membaik.

    “Kami harus bisa menahan sakit. Setelah satu atau dua bulan, rasa sakitnya akan hilang,” kata Yan.

    Untuk bertahan hidup, ketiga bersaudara ini dan ayah mereka yang juga cacat karena kecelakaan kerja, menggantungkan hidup dari uang gaji Tinglan sebagai pengasuh bayi. Mereka pun mendapatkan uang santunan dari Beijing bagi penyandang disabilitas sekitar US$ 290 atau Rp 4,4 juta untuk total tiga kakak beradik itu.            

    Siapa sangka, hidup ketiganya sekarang mulai berubah karena internet. Mereka bisa mendapatkan pemasukan sekitar 100 yuan per hari dari berjualan kudapan secara online. Mereka juga mendapatkan 20-30 yuan per hari sumbangan dari orang-orang yang bersimpati pada mereka.

    Dalam lima bulan terakhir, ketiganya menghabiskan hingga enam jam per hari menghibur para follower atau pengikut yang terus bertambah. Mereka biasanya bernyanyi dan menceritakan kehidupan mereka sebagai penyandang disabilitas pada 260 ribu pengikutnya di situs Kuaishou.com. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.