Kuwait Semakin Melarang Banyak Buku, Ada Apa?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Kuwait menghadiri International Book Fair ke-42. [The Nation]

    Warga Kuwait menghadiri International Book Fair ke-42. [The Nation]

     

    Pembaca Kuwait memprotes di Twitter dan Facebook dengan mengunggah foto tumpukan buku terlarang yang mereka miliki di perpustakaan rumah mereka.

    Penulis menyarankan bahwa layanan pengiriman online dari luar negeri dapat menghindari larangan, yang berlaku sebagian besar untuk toko buku dan penerbit lokal.

    "Sekarang buku menjadi seperti narkoba," kata Hind Francis, seorang aktivis kelompok anti-sensor Kuwait yang disebut Meem3.

    "Anda harus memiliki dealer buku terlarang Anda," tambahnya.

    Aktivis dan penulis berkumpul untuk memprotes larangan buku tiga kali pada September, terakhir pada Sabtu 29 September, hari terakhir dari Pekan Buku Terlarang internasional. Kuwait adalah salah satu dari beberapa negara Teluk yang memperbolehkan protes publik, meskipun mereka dikontrol secara ketat. Protes di Kuwait jarang dilakukan di luar ruangan, karena massa harus berani berpanas-panasan di tengah terik matahari Kuwait.

    Warga Kuwait menghadiri International Book Fair ke-42. [The Nation]

    Dengan pameran Book Fair 2018 di Kuwait, yang ketiga terbesar di dunia Arab, setelah Kairo dan Beirut, yang dijadwalkan pada November, pemerintah mengklaim tidak ada pelarangan buku di Kuwait.

    "Di Kuwait, selama lima tahun terakhir hanya 4.300 buku yang dilarang dari 208.000 buku, itu berarti hanya 2 persen yang dilarang dan 98 persen disetujui. Beberapa buku juga dilarang di AS, Eropa, Beirut, dan negara lain," kata seorang asisten menteri informasi Kuwait, Muhammad Abdul Mohsen al-Awash.

    Dalam 11 bulan terakhir, kata al-Awash, 3.600 buku disetujui oleh komite sensor, sementara 700 dilarang. Namun, dia bersikeras, sejak awal, Kuwait selalu dikenal sebagai pendukung sastra dan budaya.

    Baca: Jurnalis Investigasi Woodward Tulis Buku Heboh Soal Trump

    Ini adalah masalah yang sangat sensitif karena emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah, telah mendorong untuk menjadikan negaranya sebagai pusat budaya regional. Sementara teater, tari dan musik berada di bawah perlindungan kerajaan dan dibebaskan dari sensor Kuwait, namun buku-buku tidak.

    Larangan untuk pertama kalinya diperluas ke banyak buku internasional dan buku referensi yang sudah ada di rak-rak toko buku atau perpustakaan Kuwait, setidaknya sebagian karena tekanan parlemen, kata para kritikus larangan buku.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.