Rabu, 26 September 2018

Atasi Krisis Venezuela, Nicolas Maduro Cari Pinjaman ke Cina?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina, Xi Jinping, dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebelum pertemuan mereka di Aula Besar Rakyat di Beijing, Cina, 1 September 2015.[REUTERS]

    Presiden Cina, Xi Jinping, dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebelum pertemuan mereka di Aula Besar Rakyat di Beijing, Cina, 1 September 2015.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, berkunjung ke Cina untuk membahas perjanjian ekonomi, untuk meyakinkan pemodal utama Asia agar mencairkan pinjaman baru.

    "Saya akan pergi dengan harapan besar dan kita akan bertemu lagi dalam beberapa hari dengan prestasi besar," kata Nicolas Maduro, seperti dilaporkan Reuters, 13 September 2018.

    Baca: Pejabat Amerika Tuding Maduro Biang Kerok Krisis Venezuela

    Kementerian Luar Negeri Cina, dalam pernyataan singkat yang disiarkan oleh kantor berita resmi Xinhua, mengatakan Maduro akan berkunjung dari Kamis 13 September hingga Sabtu 15 September atas undangan Presiden Xi Jinping.

    Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, saat ini berada di Cina dan pbertemu dengan Wakil Presiden Cina, Wang Qishan. Kedua negara telah memiliki hubungan persahabatan dan kerjasama telah di semua bidang.

    Pada 7 Januari 2015, Presiden Xi Jinping bertemu dengan Presiden Nicolás Maduro dari Venezuela di Aula Besar Rakyat, Beijing, Cina.[Kementerian Luar Negeri Cina / www.fmprc.gov.cn)

    Pada Selasa 11 September, Rodriguez bertemu dengan Zhang Jianhua, presiden perusahaan energi negara Cina, CNPC, untuk membahas kerjasama, menurut sumber CNPC. Namun juru bicara CNPC tidak segera menanggapi permintaan untuk komentar.

    CNPC adalah investor utama dalam eksplorasi minyak dan gas di Venezuela dan juga merupakan pemasok teratas minyak Venezuela di bawah pinjaman pemerintah-ke-pemerintah untuk kesepakatan minyak.

    Lebih dari satu dekade, Cina berinvestasi US$ 50 miliar atau Rp 741 triliun lebih ke Venezuela melalui perjanjian pinjaman minyak yang membantu Cina mengamankan pasokan energi untuk ekonomi yang tumbuh cepat sambil memperkuat sekutu anti-Amerika Serikat di Amerika Latin.

    Baca: Komisioner Tinggi HAM PBB Bakal Temui Menlu Venezuela, Ada Apa?

    Aliran uang tunai terhenti hampir tiga tahun lalu, namun ketika Venezuela meminta perubahan persyaratan pembayaran di tengah jatuhnya harga minyak dan penurunan output minyak mentah, yang mendorong ekonomi Venezuela dilanda hiperinflasi.

    Kementerian Keuangan Venezuela pada Juli mengatakan akan menerima US$ 250 juta atau Rp 3,7 triliun dari China Development Bank untuk meningkatkan produksi minyak tetapi tidak memberikan rincian lanjut.

    Venezuela sebelumnya menerima pinjaman US$ 5 miliar atau Rp 74 triliun dari Cina untuk sektor minyaknya tetapi belum menerima seluruh pinjaman.

    Presiden Venezuela Nicolas Maduro memegang mata uang Venezuela baru Bolivar Soberano (Sovereign Bolivar) saat ia berbicara dalam pertemuan dengan para menteri di Istana Miraflores di Caracas, Venezuela 25 Juli 2018.[Istana Miraflores / Handout via REUTERS]

    Konsultan lokal Asdrubal Oliveros, yang melacak pinjaman Cina secara ketat, mengatakan Venezuela hampir memperoleh pinjaman segar US$ 5 miliar atau Rp 74 triliun untuk membiayai proyek-proyek minyak. Cina sedang menunggu Maduro mengumumkan serangkaian tindakan ekonomi, termasuk devaluasi yang curam dan kontrol mata uang yang lebih fleksibel, sebelum memberikan dana pinjaman.

    Dilansir dari ABS-CBN News, kunjungan ke Cina ini adalah yang pertama di luar negeri sejak ia diduga menjadi sasaran upaya pembunuhan menggunakan drone di parade militer di Caracas pada 4 Agustus.

    Produksi minyak mentah Venezuela pada Agustus jatuh menjadi 1.448.000 barel per hari, turun 21.000 dari bulan sebelumnya menurut angka yang dikeluarkan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

    Baca: Isu Kudeta, Venezuela Minta Rakyat Melawan Amerika Serikat

    Angka tersebut mewakili tingkat terendah minyak mentah yang diproduksi dalam tiga puluh tahun terakhir, belum termasuk pemogokan yang berlangsung dari Desember 2002 hingga Februari 2003.

    Pemerintah Venezuela menyalahkan manajemen yang buruk dari perusahaan minyak negara, PDVSA, yang telah terperangkap dalam berbagai kasus korupsi, dan mengurangi investasi di bidang infrastruktur sebagai akibat dari penurunan pendapatan. Nicolas Maduro juga menyalahkan sanksi Amerika Serikat yang mencegah perusahaan minyak Venezuela dari negosiasi utang baru di Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Joaquin Phoenix dan Para Pemeran Joker Sejak 1966

    Sutradara film terbaru Joker, Todd Phillips mengunggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker, akan tayang Oktober 2019. Inilah 6 pemeran lainnya.