Rabu, 21 November 2018

Wabah Flu Babi, Cina Larang Impor dan Musnahkan 38 Ribu Babi

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peternakan babi [www.swineweb.com]

    Peternakan babi [www.swineweb.com]

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina melarang ekspor babi dan produk babi setelah muncul laporan wabah flu babi Afrika di sejumlah provinsi di Cina, di mana pihak berwenang telah menemukan enam kasus flu babi.

    Dilaporkan Reuters, 3 September 2018, langkah-langkah yang diumumkan oleh Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Cina adalah yang paling serius sejak negara itu menemukan kasus pertama virus flu babi Afrika sebulan lalu, dan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang penyebarannya.

    Baca: Jumlah Babi Ternak di Spanyol Melebihi Populasi Penduduk

    Cina telah menemukan enam kasus penyakit flu babi di lima provinsi, yakni di timur laut Liaoning, Henan tengah, dan provinsi bagian timur Anhui, Jiangsu dan Zhejiang.

    Larangan ekspor akan secara efektif mencegah rumah jagal dan pabrik pengolahan daging mengolah babi dari daerah yang terkena dampak. Menghentikan babi dan produk babi agar tidak diangkut keluar dari daerah-daerah itu juga akan menyebabkan gangguan besar terhadap bisnis dari petani, rumah pemotongan hewan dan pengolah daging.

    Peternakan babi di Cina [The Weekly Times]

    Di provinsi Henan, salah satu daerah penghasil babi terbesar di China, stok melonjak karena para petani di sana tidak dapat lagi menjual hewan ke bagian lain negara itu, kata seorang agen bernama Ni yang mengangkut babi di sekitar provinsi itu.

    "Saya belum punya bisnis dalam dua hari terakhir karena ada terlalu banyak babi di pasar. Harganya buruk dan tidak banyak permintaan," kata Ni. Ni mengatakan ia biasa mengangkut hingga 700 babi sehari, tetapi volume saat ini sekitar 700 seminggu.

    Pemerintah juga mengatakan babi hidup dari provinsi yang tidak terkena dampak tidak dapat diangkut melalui orang-orang yang telah melaporkan infeksi, sebuah langkah yang diperkirakan akan berdampak besar terhadap perdagangan babi di Cina.

    Sampai saat ini, pihak berwenang hanya menghentikan transportasi babi dan produk dan menutup pasar hidup di dalam dan di sekitar area yang terinfeksi.

    Baca: Wabah Flu Babi di India, 800 Orang Tewas

    Dalam temuan kasus flu babi keenam, 134 babi meninggal karena penyakit di kota Xuancheng di provinsi Anhui timur, yang merupakan kasus kedua di provinsi itu, menurut kementerian pertanian Cina.

    Kota Xuancheng berjarak sekitar 70 kilometer tenggara kota Wuhu, tempat kasus demam babi Afrika lainnya dilaporkan pekan lalu.

    Dilaporkan South China Morning Post, lebih dari 38.000 babi telah dimusnahkan di seluruh Cina, karena negara produsen daging babi terbesar di dunia ini berupaya menahan penyebaran flu babi Afrika.

    Petugas memberikan vaksin terhadap ternak babi [Yicai Global]

    Pencegahan Epidemi pada dasarnya telah selesai di provinsi Liaoning, Henan, Jiangsu dan Zhejiang, di mana sebanyak 37.271 babi dimusnahkan, sementara 1.264 babi lainnya dimusnahkan pada Sabtu 1 September di provinsi Anhui.

    Virus flu babi Afrika ini ditularkan oleh kutu dan kontak langsung antara hewan, dan juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi, pakan hewan dan orang-orang dari satu tempat ke tempat lain.

    Baca: Perang Dagang Vs Cina, Produsen Babi Amerika Rugi Rp 12 Triliun

    Demam babi Afrika tidak berbahaya bagi manusia tetapi menyebabkan demam hemoragik pada babi peliharaan dan babi hutan yang hampir selalu berakhir dengan kematian dalam beberapa hari.

    Tidak ada obat penawar atau vaksin, dan satu-satunya metode yang diketahui untuk mencegah penyebaran flu babi Afrika adalah karantina massal ternak yang terinfeksi. Cina menyatakan rencana darurat telah diluncurkan dan langkah-langkah pengendalian diambil untuk menghentikan penyebaran flu babi Afrika.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.