Sabtu, 20 Oktober 2018

Amerika Serikat Kembalikan 9 Anak Guatemala ke Orang Tua

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjuk rasa di Amerika Serikat memprotes pemisahan anak imigran dari orang tuanya dan mendukung masuknya imigran, Sabtu, 30 Juni 2018. Reuters

    Sejumlah pengunjuk rasa di Amerika Serikat memprotes pemisahan anak imigran dari orang tuanya dan mendukung masuknya imigran, Sabtu, 30 Juni 2018. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Sembilan anak-anak yang dipisahkan oleh orang tua mereka di wilayah perbatasan Amerika Serikat bersatu dengan orang tuanya. Mereka pun segera diterbangkan ke Guatemala pada Selasa, 7 Agustus 2018.

    Nazario Jacinto Carrillo, mantan petani dari desa Huehuetenango, gembira menyambut putrinya yang berusia 5,5 tahun setelah terpisah selama tiga bulan. Carrillo di deportasi ke negara asalnya Guatemala, sedangkan putrinya ditahan di kota San Diego, Amerika Serikat.

    "Saya fikir mereka telah merampas putri saya. Sekarang saya merasa damai dan gembira," kata Carrillo, seperti dikutip dari Reuters pada Rabu, 8 Agustus 2018.

    Baca: Dikecam Kiri - Kanan, Trump Hentikan Pemisahan Anak Imigran

    Pendemo bentrok dengan penegak hukum di luar Ernest Morial Convention Center di New Orleans, La. Senin, 18 Juni 2018. Mereka menentang penahanan dan pemisahan anak-anak imigran dari orang tua di Perbatasan AS. Matthew Hinton/The Advocate/AP

    Baca: Dikritik Soal Pemisahan Anak Imigran, Trump Salahkan Demokrat

    Anak-anak yang dipersatukan kembali dengan orang tuanya berusia 6 tahun sampai 14 tahun. Mereka diterbangkan dari New York ke Guatemala. Mereka adalah kelompok pertama anak-anak yang dikembalikan ke orang tua mereka setelah dipisahkan dalam kebijakan 'nol toleransi' yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

    "Saya sangat merindukan ibu saya. Ketika mereka memisahkan kami, saya merasa sangat sedih," kata Leo Jeancarlo de Leon, 6 tahun, yang dipisahkan dari ibunya.

    Sekitar 2.500 anak-anak dipisahkan dari keluarga mereka menyusul pengetatan kebijakan pada Mei 2018 untuk mengatasi imigran ilegal yang masuk ke Amerika Serikat. Banyak dari para imigran itu melarikan diri ke Amerika Serikat secara ilegal untuk menyelamatkan diri dari tindak kekerasan, namun ada pula yang meminta suaka. Pemerintahan Trump telah mengakhiri kebijakan pemisahan anggota keluarga ini pada Juni 2018 atau beberapa pekan setelah dunia internasional melayangkan protes.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.