Rabu, 22 Agustus 2018

Universitas Kedokteran Tokyo Akui Manipulasi Pelamar Perempuan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tetsuo Yukioka (kiri), pejabat eksekutif di Tokyo Medical University, dan Keisuke Miyazawa, yang bertindak sebagai presiden universitas, membungkuk sebelum mengadakan konferensi pers [Japantimes]

    Tetsuo Yukioka (kiri), pejabat eksekutif di Tokyo Medical University, dan Keisuke Miyazawa, yang bertindak sebagai presiden universitas, membungkuk sebelum mengadakan konferensi pers [Japantimes]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pihak Universitas Kedokteran Tokyo meminta maaf setelah penyelidikan internal yang menegaskan bahwa ada manipulasi nilai ujian masuk selama bertahun-tahun. Hasil investigasi menyebut ada tindakan untuk membatasi jumlah mahasiswa perempuan dan memastikan lebih banyak pria menjadi dokter.

    Dilaporkan Associated Press, 8 Agustus 2018, Universitas Kedokteran Tokyo memanipulasi semua hasil ujian masuk mulai dari tahun 2006 atau bahkan lebih awal, menurut temuan yang dirilis oleh pengacara yang terlibat dalam penyelidikan dan mengkonfirmasi laporan tersebut. Pihak universitas mengatakan manipulasi seharusnya tidak terjadi dan berjanji tidak akan terjadi lagi ke depannya.

    Baca: Terbongkar, Universitas Kedokteran Tokyo Diskriminasi Wanita


    Dikatakan bahwa pihak universitas mempertimbangkan untuk menerima mereka yang dinyatakan akan lulus ujian, meskipun tidak menjelaskan bagaimana hal itu akan dilakukan. Laporan media tentang skandal mengatakan manipulasi itu menghapus sebanyak 10 persen pelamar perempuan dalam beberapa tahun.

    Tetsuo Yukioka, direktur pelaksana Tokyo Medical University, tiba untuk konferensi pers Selasa, 7 Agustus 2018, di Tokyo.[AP Photo / Eugene Hoshiko]

    Manipulasi itu terungkap selama penyelidikan atas dugaan "pintu belakang" seorang anak birokrat pendidikan kementerian agar masuk universitas, dan sebagai imbalannya akan membantu universitas dalam memperoleh dana penelitian. Birokrat dan mantan kepala universitas juga telah dituduh melakukan suap.

    Penyelidikan menemukan bahwa dalam ujian masuk tahun ini sekolah mengurangi semua nilai ujian tahap pertama pelamar sebesar 20 persen dan kemudian menambahkan setidaknya 20 poin untuk pelamar laki-laki, kecuali mereka yang sebelumnya gagal tes setidaknya empat kali.

    Dikatakan bahwa manipulasi serupa telah terjadi selama bertahun-tahun karena sekolah menginginkan lebih sedikit dokter perempuan lantaran mempersingkat atau menghentikan karir mereka setelah menjadi ibu. Lulusan medis biasanya bekerja di rumah sakit afiliasi universitas setelah karir mereka dimulai.

    Universitas Kedokteran Tokyo di Jepang [Nikkei Asian Review]

    Putra pejabat kementerian pendidikan, yang telah gagal ujian tiga kali, diberi 20 poin tambahan, menaikkan nilainya di atas garis batas poin syarat penerimaan.

    "(Perilaku ini) menipu masyarakat dan mencakup praktik-praktik yang secara signifikan mendiskriminasikan perempuan. Semua pejabat yang terlibat dalam penipuan ini harus diganti dan universitas harus bersatu untuk melakukan reformasi dari awal," kata Kenji Nakai, salah satu pengacara yang bertanggung jawab atas penyelidikan, seperti dikutip dari Japan Times.

    Baca: Wartawan Jepang dan Italia Disandera Ekstrimis di Suriah

    "Diskriminasi terhadap perempuan ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi. Kami akan menghapusnya," kata Tetsuo Yukioka, pejabat eksekutif di Universitas Kedokteran Tokyo.

    "Kepada orang-orang yang telah kami sebabkan kesulitan luar biasa, terutama kandidat perempuan yang telah kami sakiti, kami akan melakukan segala yang kami bisa," ujar Keisuke Miyazawa, Rektor Universitas Kedokteran Tokyo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.