Rabu, 22 Agustus 2018

Duterte Kirim Menteri untuk Bebaskan Warga Filipina yang Diculik

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina Rodrigo Duterte. AP

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, akan mengirimkan sejumlah menterinya ke Libya untuk membuat kesepakatan dengan kelompok garis keras yang melakukan penculikan terhadap tiga warga negara Filipina. Juru bicara kepresidenan, Harry Roque, mengatakan Duterte berubah fikir setelah mendapat masukan dari para anggota kabinetnya.

    Sebelumnya pada akhir pekan lalu, Duterte sudah sesumbar akan mengirimkan beberapa kapal selamnya ke Libya jika tiga warga negaranya sampai dilukai oleh para penculik. Tiga warga negara Filipina menjadi sasaran penculikan saat bekerja untuk sebuah perusahaan air.

    Baca: 3 Warga Filipina Diculik, Duterte Siap Kerahkan Kapal Perang

    "Masalah ini sangat rumit. Para penculik itu bukan agen dari pemerintah Libya, mereka adalah militan garis keras yang terlibat dalam konflik bersenjata, termasuk dengan pemerintah Libya. Untuk itu, lebih bijaksana tidak bekerja sama dengan pemerintah Libya agar bisa melihat apa tuntutan mereka," kata Roque seperti dikutip dari news.abs-cbn.com pada Rabu, 8 Agustus 2018.

    Menurut Roque, Presiden Duterte telah membentuk sebuah gugus tugas yang terdiri dari Menteri Luar Negeri - Alan Peter Cayetano, Menteri Tenaga Kerja - Silvestre Bello III, Penasehat Presiden untuk hubungan luar negeri dan urusan Islam - Abdullah Mamao, dan Otoritas Keamanan Mindanao - Abul Khayr Alonto.

    Baca: Kelompok Bersenjata Culik Warga Asing di Filipina

    Tiga warga negara Filipina diculik bersama satu orang warga negara Korea Selatan. Rekamanan para korban sedang disandera disebar pada akhir pekan lalu dan diunggah oleh kelompok intelijen SITE. Masih belum jelas kelompok mana yang melakukan penculikan ini dan kapan pastinya rekaman video itu diambil.

    Sejak mantan Pemimpin Libya, Moamer Kadhafi, digulingkan dalam sebuah kudeta dan dibunuh pada 2011, para pekerja asing dan diplomat acap menjadi sasaran penculikan para militan, diantaranya kelompok radikal Negara Islam Irak-Suriah atau ISIS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.