Rabu, 22 Agustus 2018

Jika Georgia Gabung NATO, Medvedev: Bisa Konflik Mengerikan

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan) dan Perdana Menteri Dmitry Medvedev di Lipno Island di daerah Novgorod, Rusia, 10 September 2016. Sputnik/Kremlin/Alexei Druzhinin/via REUTERS

    Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan) dan Perdana Menteri Dmitry Medvedev di Lipno Island di daerah Novgorod, Rusia, 10 September 2016. Sputnik/Kremlin/Alexei Druzhinin/via REUTERS

    TEMPO.CO, Moskow – Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev mengatakan jika NATO menerima Georgia sebagai anggota maka itu bisa memicu konflik mengerikan. Medvedev mempertanyakan mengapa aliansi pertahanan ini mau melakukan itu.

    Baca:

     
     
     

    Pernyataan Medvedev ini muncul beberapa pekan setelah Presiden Vladimir Putin memperingatkan NATO agar tidak membangun hubungan lebih dekat dengan Ukraina dan Georgia. Ini karena langkah itu tidak bertanggung-jawab dan bisa memicu konsekuensi bagi aliansi itu.

    “Ini bisa memprovokasi konflik yang mengerikan. Saya tidak mengerti mereka melakukan ini untuk apa,” kata Medvedev kepada media Rusia, Kommersant dalam wawancara seperti dilansir Reuters, Selasa, 7 Agustus 2018.

    Menurut Sputniknews, Medvedev juga mengatakan pemerintah Rusia meyakini NATO menganggap negara itu sebagai musuh potensial. “Ini terlihat jelas dari kemampuan militer mereka termasuk nuklir yang diarahkan terhadap Rusia,” kata Medvedev.

     Ambisi Georgia untuk bergabung dengan NATO membuat pemerintah Rusia marah. Rusia dan Georgia berbagi garis perbatasan. Ini membuat Rusia tidak ingin Georgia bergabung dengan blok militer yang dianggap memusuhi Rusia. Pada 2008, para pemimpin negara anggota NATO menjanjikan Georgia bakal menjadi anggota blok ini.

    Pasukan Rusia memasuki dua wilayah yang memisahkan diri di Georgia pada 2008 dan masih berlangsung hingga saat ini yaitu Ossetia selatan dan Abkhazia. Pemerintah Rusia beralasan ini dilakukan atas permintaan penduduk lokal dan menganggap kedua wilayah ini sebagai negara merdeka.

    Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg (kiri), berbicara dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez di Istana Moncloa di Madrid, Spanyol, Selasa, 3 Juli 2018. Stoltenberg mengunjungi negara sekutu sebelum KTT NATO di Brussels, Belgia.[AP Photo / Paul White]

    Namun, negara-negara Barat dan pemerintah Georgia berpendapat itu adalah pendudukan ilegal.

    Pemimpin NATO dan pemerintah Georgia membahas soal ini pada pertemuan puncak di Brussel pada Juli 2018. Medvedev, yang menjadi Presiden Rusia saat terjadi pertempuran pasukan negaranya dengan Georgia pada 2018, mengecam pertemuan itu.

    Baca:

     
     

    “Mengenai keputusan NATO memperkuat komitmennya untuk menerima Georgia, apa yang bisa saya katakan soal ini? Ini posisi yang sangat tidak bertanggung jawab dan menjadi ancaman bagi perdamaian.”

    Saat ditanya apa yang akan terjadi jika Georgia jadi bergabung dengan NATO tanpa melibatkan dua wilayah yang merdeka tadi, dan apakah ini bisa memicu konflik, ini jawaban Medvedev.

    “Iya, jelas begitu karena kami menganggap Abkhazia dan Ossetia selatan sebagai dua negara merdeka. Jika ada negara lain menganggap kedua wilayah itu sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya maka ini bisa menimbulkan konsekuensi berbahaya,” kata Medvedev sambil berharap pemimpin NATO memiliki pemahaman rasional untuk tidak berjalan ke arah ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.