Delegasi Suriah untuk PBB: Israel Bantu Milisi Lari ke AS

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertempuran di Suriah antara milisi pemberontak dengan tentara pemerintah, masih berlanjut. Perbedaan kekuatan persenjataan bukan halangan bagi milisi, mereka membuat sendiri peralatan tempur. Al-Ansar brigade, membuat tank dengan nama Sham II. Tank ini dipergunakan untuk menggempur tentara pemerintah. Aleppo, 8 Desember 2014. HERVE BAR/Getty Images

    Pertempuran di Suriah antara milisi pemberontak dengan tentara pemerintah, masih berlanjut. Perbedaan kekuatan persenjataan bukan halangan bagi milisi, mereka membuat sendiri peralatan tempur. Al-Ansar brigade, membuat tank dengan nama Sham II. Tank ini dipergunakan untuk menggempur tentara pemerintah. Aleppo, 8 Desember 2014. HERVE BAR/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Delegasi Suriah untuk PBB, Bashar Jaafari mengatakan, Israel membantu pemindahan milisi yang melarikan diri dari wilayah Suriah ke Amerika Serikat dan negara-negara lain.

    Menurut Jaafari, serangan pasukan Arab Suriah yang didukung AS telah memaksa para milisi untuk melarikan diri dari wilayah Suriah melalui Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Dari sana, tambah Jaafari, para milisi itu kemudian dipindahkan ke Yordania dan negara lain, termasuk ke AS.

    Baca: Bendera Suriah Berkibar di Dara'a Setelah 7 Tahun Perang

    Sebelumnya, Israel sudah mengevakuasi ratusan anggota Helm Putih dukungan Barat yang menjalankan tugas menyelamatkan korban-korban sipil dalam pertempuran di Suriah, tetapi kemudian diketahui organisasi Helm Putih ini jaringan al-Qaeda.

    Pemerintah Suriah menuduh Helm Putih bekerja sama dengan kelompok teroris dan merencanakan serangan di negara itu.

    "Setelah operasi evakuasi Helm Putih ini,  sudah sangat jelas bahwa AS, Israel, dan lainnya melindungi organisasi teroris. Fakta bahwa hal tersebut dilakukan melalui garis demarkasi antara Suriah dan Israel. Hal tersebut mengartikan bahwa siapapun yang berada di belakang organisasi ini tidak menghormati Piagam PBB dan hukum Internasional," ujar Jaafari dalam kutipan situs berita Sputnik News pada 31 Juli 2018.

    Setelah pertemuan Internasional Astana ke 10 di Sochi, Rusia, Jaafari juga mengeluhkan serangan Israel ke Suriah dan memberi selamat kepada pasukan Suriah atas kemenanganbta saat melawan milisi di Provinsi Daraa Selatan yang berada di bawah pengawasan ISIS.

    Suasana kota Douma, Suriah, yang hancur akibat perang, 16 April 2018. Amerika Serikat menuduh pasukan Suriah menggunakan senjata kimia yang menyebabkan 40 orang tewas, pada 7 April lalu. REUTERS/Ali Hashisho

    Baca: 6 Negara Bertempur Besar-besaran di Suriah, untuk Apa?

    Jaafari juga mengkritik pendudukan Turki atas wilayah-wilayah di Suriah Utara dan mengatakan bahwa Ankara tidak memenuhi kewajibannya terkait zona deeskalasi di kawasan tersebut, termasuk provinsi Idlib.

    "Otoritas Turki mengirim pasukan bersenjata berat ke sana dan kami semua menyaksikan aksi militer Turki di wilayah ini hingga Afrin mereka tempati. Mereka juga menduduki permukiman lain," kata Jaafari.

    Jaafari mengatakan Turki adalah satu-satunya negara yang telah melanggar kewajibannya berdasarkan perjanjian Astana. Bahkan, lira Turki sudah diperkenalkan di daerah-daerah pengawasan Ankara.

    Seperti yang dilansir situs berita RT pada 31 Juli 2018, delegasi Suriah untuk PBB juga menegaskan bahwa AS dan sekutunya harus segera meninggalkan wilayah Suriah dengan mengutip fakta bahwa kehadiran mereka di negara yang dilanda perang itu ilegal menurut hukum internasional.

    Koalisi pimpinan AS di Suriah belum diundang oleh pemerintah Damaskus dan belum diberikan otorisasi oleh Dewan Keamanan PBB. Jaafari mengatakan bahwa dirinya ingin melihat Idlib kembali ke Suriah melalui rekonsiliasi nasional tetapi memperingatkan tentara Suriah memiliki kapasitas cukup untuk melakukannya termasuk dengan cara militer jika diperlukan.

    RUSSIA TODAY | SPUTNIK NEWS| ALISHA ULFAH FIRDIANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.