Selasa, 23 Oktober 2018

Amerika Serikat Tolak Akui Aneksasi Rusia atas Crimea

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump memberikan konferensi pers bersama di Istana Presiden di Helsinki, Finlandia, pada Senin, 16 Juli 2018. (AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)

    Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump memberikan konferensi pers bersama di Istana Presiden di Helsinki, Finlandia, pada Senin, 16 Juli 2018. (AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat menegaskan tidak akan pernah mengakui aneksasi Crimea oleh Rusia dan membantah tuduhan Donald Trump terlalu lunak terhadap Rusia. Bantahan ini disertai penundaan pertemuan Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Gedung Putih mengatakan Trump tidak akan bertemu dengan Putin pada musim gugur ini, seperti yang telah diumumkan, dan malah akan menunda pertemuan sampai 2019.

    Baca: Di Helsinki, Putin Usulkan Ini ke Donald Trump Soal Ukraina

    Penasihat keamanan nasional AS, John Bolton, mengutip penyelidikan penasihat khusus Robert Mueller bahwa isu campur tangan Rusia dalam pemilu 2016 sebagai alasan penundaan.

    "Presiden percaya bahwa pertemuan bilateral berikutnya dengan Presiden Putin harus dilakukan setelah perburuan agen Rusia berakhir, jadi kami sepakat bahwa itu akan terjadi setelah awal tahun depan," kata Bolton, seperti dilansir Associated Press, 26 Juli 2018. Bolton sendiri adalah orang yang ditunjuk Trump untuk mengundang Putin ke Washington untuk pertemuan pada musim gugur.

    Ekspresi tatapan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat menggelar pertemuan dalam KTT Amerika Serikat-Rusia di Helsinki, Finlandia, Senin, 16 Juli 2018. Mereka membahas 5 topik di antaranya, tuduhan campur tangan pemilu AS oleh Rusia, krisis Suriah, perjanjian kontrol senjata nuklir, aneksasi Crimea dari Ukraina oleh Rusia dan sanksi Washington terhadap Moskow. Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengeluarkan pernyataan berjudul "Deklarasi Crimea" di mana dia mengatakan Amerika Serikat akan terus bersikeras bahwa integritas teritorial Ukraina akan dipulihkan. Dia mengatakan AS akan berpegang pada prinsipnya yang sejak lama menolak untuk mengakui klaim Rusia atas kedaulatan Crimea. Dia juga meminta Rusia untuk menghormati prinsip-prinsip internasional untuk mengakhiri pendudukannya atas Crimea.

    Penundaan ini bersamaan dengan tanggapan dari anggota parlemen di partai Republik Trump, yang menilai bahwa Putin adalah musuh yang tidak layak untuk mengunjungi Gedung Putih.

    Baca: Limosin 'Aurus' Vladimir Putin Diminati Pelanggan Asing

    Dilansir Reuters, Ketua parlemen Paul Ryan dan Pemimpin Mayoritas Senat, Mitch McConnell, mengatakan bahwa Putin tidak akan diundang untuk berbicara di Kongres AS atau mengunjungi Capitol Hill jika dia menerima undangan Donald Trump.

    Sementara pemerintah Rusia mengatakan meskipun Amerika Serikat dan Rusia setuju perlunya pertemuan Putin-Trump kedua, Rusia belum memulai persiapan untuk pertemuan lanjutan.

    "Ada pilihan lain (untuk bertemu) yang dapat dilihat oleh para pemimpin kami," kata ajudan Vladimir Putin, Yuri Ushakov.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.