Senin, 23 Juli 2018

Pengadilan Amerika Mendakwa 12 Petugas Intelijen Rusia

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Robert Mueller  dan Donald Trump

    Robert Mueller dan Donald Trump

    TEMPO.CO, Washington – Juri pengadilan federal Amerika Serikat mendakwa 12 orang petugas intelijen Rusia terlibat dalam peretasan jaringan komputer Partai Demokrat pada pilpres 2016.

    Ini merupakan perkembangan terbaru terkait tudingan AS bahwa Rusia terlibat melakukan intervensi pilpres AS untuk memenangkan Donald Trump sebagai Presiden.

    Baca: 

    Mau Bertemu Putin, Trump Ungkit Campur Tangan Rusia di Pemilu AS

    Amerika dan Cina Perang Dagang, Rusia Ikut Naikkan Tarif Impor

     

    Dakwaan ini dipublikasikan hanya dua hari menjelang pertemuan Trump dan Putin di Helsinki, Finlandia, pada 15 Juli 2018.

    “Selain mempublikasikan dokumen ke publik, para terdakwa mengirim dokumen curian ke organisasi lain dan mendiskusikan waktu publikasi sejumlah dokumen untuk menambah dampaknya terhadap pilpres,” kata Rod Rosenstein, deputi Jaksa Agung AS, kepada media, Jumat, 13 Juli 2018.

    Presiden Donald Trump, berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, saat berjalan menuju sesi foto dalam acara KTT APEC di Danang, Vietnam, 11 November 2017. Trump dan Putin menyetujui sebuah pernyataan tentang Suriah, saat berbincang ketika sesi foto. REUTERS/Jorge Silva

    Dakwaan ini menggambarkan adanya konspirasi luas termasuk melibatkan teknik peretasan canggih dan penyebarluasan dokumen milik Partai Demokrat. Pada 2016, Demokrat mengusung Hillary Clinton, sedangkan Partai Republik mengusung Donald Trump.

    Baca: 

    Dubes Rusia: Pejabat AS Takut Dipecat jika Bersalaman dengan Saya

     

    12 orang ini berasal dari dinas intelijen Rusia, GRU, yang memonitor secara aktif jaringan komputer Partai Demokrat termasuk komputer milik tim kampanye. Para peretas ini berhasil mencuri sejumlah besar data milik Demokrat.

    Dakwaan ini terkait upaya penasehat khusus Robert Mueller, yang ditunjuk kementerian Kehakiman AS, dalam investigasi mengenai dugaan keterlibatan Rusia dalam pilpres AS 2016.

    Ini merupakan pertama kalinya ada dakwaan resmi oleh Mueller terhadap pemerintah Rusia dalam kasus ini. Presiden Rusia, Vladimir Putin, berulang kali membantah adanya intervensi ini saat ditanya Trump di beberapa kesempatan keduanya bertemu di forum internasional.

    Trump berjanji akan kembali bertanya soal ini kepada Putin saat keduanya bertemu di Helsinki dalam waktu dekat ini.

    Menurut Rosenstein, dia telah melaporkan soal dakwaan ini kepada Trump pada pekan lalu. Tidak ada warga AS yang masuk dalam dakwaan ini. Uniknya, beberapa jam sebelum pengumuman itu dilakukan, Trump justru menyebut secara terbuka bahwa investigasi Mueller ini sebagai perburuan penyihir yang diarahkan. “Ini melukai hubungan AS dan Rusia,” kata Trump seperti dilansir Reuters.

    Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dakwaan itu bertujuan untuk merusak atmosfer sebelum Trump dan Putin bertemu. Menurut kementerian, tidak ada bukti bahwa ke 12 orang itu terkait dengan intelijen militer dan peretasan.

    Menyusul pengumuman oleh Rosenstein ini, politikus Partai Demokrat mendesak Trump membatalkan pertemuan dengan Putin.

    Penasehat hukum Trump, Rudy Giuliani, mengatakan pengumuman Rod Rosenstein soal dugaan intervensi Rusia itu sebagai kabar bagus. “Tidak ada orang AS yang terlibat. Ini waktunya bagi Mueller untuk mengakhiri pengejaran terhadap Presiden dan menyatakan Presiden Trump sama sekali tidak bersalah,” kata Giuliani yang pernah menjadi wali kota New York seperti tertulis di akun Twitter @RudyGiuliani. Mueller mulai bertugas sejak sekitar pertengahan 2017.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Zainul Majdi Memihak Prabowo di Pilpres 2014, Kini Memilih Jokowi

    Tuan Guru Bajang Zainul Majdi memberi dukungan pada Jokowi untuk Pemilihan Presiden 2019. Padahal ia dan dua tokoh ini sebelumnya mendukung Prabowo.