Senin, 23 Juli 2018

Politikus Republik Cecar Kepala Investigator FBI Soal Anti-Trump

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan bekas kepala kontra intelijen FBI Peter Strzok (kanan)

    Presiden AS, Donald Trump (kiri) dan bekas kepala kontra intelijen FBI Peter Strzok (kanan)

    TEMPO.COWashington – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat memanggil paksa agen Biro Penyelidik Federal, Peter Strzok, yang pernah menjadi ketua tim penyelidik dugaan intervensi Rusia untuk kemenangan Presiden AS, Donald Trump, pada pemilihan Presiden 2016.

    Rapat yang digelar terbuka ini berlangsung panas ketika sejumlah anggota DPR asal Partai Republik, yang mengusung Trump pada pilpres, mulai mencecar Strzok, yang merupakan bekas kepala seksi kontra-intelijen di FBI, soal tindakannya yang dianggap bias terhadap Trump.

    Baca: 

    Akhirnya, Trump Bersedia Diperiksa Mueller Soal Kolusi Rusia

    Partai Demokrat Amerika Serikat Gugat Rusia, Trump dan WikiLeaks

     
     

    CNN melansir politikus Republik mencoba menggambarkan berbagai komentar Strzok lewat pesan teks dengan kekasih gelapnya Lisa Page, yang bekerja sebagai seorang penasehat hukum di FBI, sebagai bentuk bias institusional yang membuat investigasi yang saat ini dipimpin Robert Mueller sebagai invalid.

    Ketua Komite Reformasi Pemerintah dan Pengawasan, Trey Gowdy, menanyakan maksud kata dalam percakapan teks pribadi antara Strzok dan Page, yang belakangan diungkap ke publik.

    “Teks itu menyebutkan ’Page bilang Trump tidak bakalan jadi Presiden kan? Iya kan? Strzok menjawab ‘Tidak. Tidak. Tidak akan. Kita akan hentikan.’

    Baca: 

    Trump Mau Bicara dengan Mueller Soal Dugaan Kolusi Rusia jika ...

     

    Sekarang saya bertanya itu maksudnya apa?” kata Gowdy dengan aksen selatan yang kental kepada Strzok, yang duduk sebagai saksi dan didampingi pengacaranya, di Gedung Capitol Hill, pada Kamis, 12 Juli 2018 waktu setempat.

    Mendengar ini, Strzok menjawab,”Pak Ketua, pesan teks itu harus dipahami dalam konteks.” Gowdy menyahut bahwa dia tidak ingin berdebat mengenai bahasa dan mendesak Strzok menjawab pertanyaannya.

    Strzok mengatakan pesan teks itu ditulis pada malam hari. Namun, Gowdy, yang namanya mulai populer sejak rapat dengar pendapat dalam kasus Benghazi, Libya, memotong jawaban Strzok. “Saya tidak peduli kapan pesan itu ditulis. Saya tidak peduli gaya tulisannya. Saya tanya apa artinya Agen Strzok,” kata Gowdy dengan nada tinggi.

    Akhirnya Strzok menjawab maksud kalimatnya itu adalah dia berniat menghentikan proses pencalonan Trump sebagai kandidat Presiden.

    Menurut Strzok, sikap pribadinya itu tidak mempengaruhi sikapnya sebagai penyelidik dalam kasus dugaan intervensi Rusia.

    Soal ini, Gowdy menanggapi. “Agen Strzok, itu jawaban yang fantastis untuk pertanyaan yang tidak ditanya siapapun.” Seperti dilansir CBS, tanya jawab ini berlangsung hingga 15 menit. Dalam dalam satu kesempatan, Gowdy mengungkapkan rasa frustrasinya atas jawaban Strzok.

    “Saya tidak peduli dengan apa yang kamu apresiasi, Agen Strzok. Saya tidak menghargai ada agen FBI dengan level kebencian begitu tinggi bekerja untuk dua kasus investigasi besar pada 2016,” kata Gowdy, yang merupakan bekas jaksa penuntut federal dan sekarang menjadi anggota DPR dari Carolina Selatan. Sebelum menangani kasus Trump, Strzok juga terlibat dalam kasus penggunaan server pribadi untuk alamat email pribadi oleh bekas Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

    Strzok juga terlibat tanya-jawab panas dengan politikus Partai Republik, Louie Gohmert dari Texas. Gohmert menuding Strzok berbohong dalam testimoni tertutup sebelumnya di Senat. “Dia ini bagus sekali. Dia berbohong dan kita tahu dia berbohong dan dia mungkin bisa lolos poligraf,” kata Gohmert.

    Gohmert juga mencecar hubungan asmara Strzok dan Page. “Saya tidak bisa membayangkan ketika melihat kamu terlihat tersenyum kecil seperti itu. Berapa kali kamu terlihat tak berdosa seperti itu saat melihat wajah istrimu dan berbohong soal Lisa (Page),” kata Gohmert.

    Ucapan Gohmer ini membuat politikus Partai Demokrat, yang mendukung Strzok, berang. “Pak Ketua, itu sudah keterlaluan,” kata Bonnie Watson, yang merupakan wakil rakyat dari New Jersey. “Kamu ini kenapa? Kamu perlu minum obatmu.”

    Politikus Partai Republik ramai-ramai menuding Strzok bersikap bias dalam investigasi terhadap Trump seperti terlihat dalam percakapan teks pribadi dengan kekasihnya. Namun, politikus Demokrat justru menyatakan sebaliknya karena Strzok justru gagal mengungkap adanya kolusi antara Rusia dengan tim kampanye Trump, yang menunjukkan rasa tidak suka Strzok terhadap Trump tidak sampai mencemari proses investigasi yang dilakukannya.

    Strzok mendapat kesempatan membuat pernyataan seusai tanya jawab dengan Gowdy. “Saya bisa pastikan Pak Ketua, tidak pernah keyakinan pribadi saya mempengaruhi tindakan yang saya ambil (dalam investigasi),” kata dia.

    Menurut Strzok, ada pengawasan berlapis di FBI seperti asisten direktur, eksekutif asisten direktur, deputi direktur hingga direktur FBI, yang saat itu dijabat James Comey. Trump memberhentikan Comey pada pertengahan 2017 karena perbedaan pandangan soal investigasi ini.

    Menurut Strzok, ada sejumlah lapisan jabatan dibawahnya yang juga ikut mengawasi seperti kepala seksi, suprvisor, kepala unit, agen kasus dan analis. “Semuanya terlibat dalam pengambilan keputusan,” kata dia.

    Sebelum berangkat ke Brussel untuk mengikuti KTT NATO tiga hari lalu, Trump sempat mengomentari soal investigasi Strzok soal dugaan intervensi Rusia sebagai kasus yang paling korup dalam sejarah FBI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Zainul Majdi Memihak Prabowo di Pilpres 2014, Kini Memilih Jokowi

    Tuan Guru Bajang Zainul Majdi memberi dukungan pada Jokowi untuk Pemilihan Presiden 2019. Padahal ia dan dua tokoh ini sebelumnya mendukung Prabowo.