Senin, 23 Juli 2018

Serangan Siber dari Rusia ke Amerika Serikat Naik

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi hacker. Politiken.dk

    Ilustrasi hacker. Politiken.dk

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Nasional Intelijen Amerika Serikat, Dan Coats, memperingatkan naiknya ancaman serangan siber yang sudah dalam level membahayakan terhadap infrastruktur Amerika Serikat. Peringatan ini disebut Coats sangat serius setelah serangan teror pada 11 September 2001.

    Menurutnya, Rusia, Cina, Iran dan Korea Utara, sedang meluncurkan serangan siber yang cukup rutin kepada jaringan komputer federal, negara-negara bagian dan lembaga-lembaga pemerintah daerah di seluruh Amerika Serikat. Bukan hanya itu, serangan siber juga terjadi pada perusahaan-perusahaan asal Negeri Abang Sam dan lembaga-lembaga pendidikan di negara itu.

    "Rusia telah menjadi negara paling agresif, tidak diragukan lagi," kata Coats, dalam pidatonya di Institut Hudson, sebuah lembaga kajian di Amerika Serikat, Sabtu, 14 Juli 2018.

    Baca: Indonesia akan Sering Terkena Serangan Siber Sepanjang 2018-2025

    Ruang laboratorium forensic digital di Microsoft Digital Cybercrime Unit. Sistem di sini siaga 24 jam untuk memonitor serangan siber di seluruh dunia (Kredit Foto: Microsoft)

    Baca: Amerika Serikat Rilis Peringatan Serangan Siber Korea Utara

    Pernyataan itu disampaikan oleh Coats setelah Kementerian Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan dakwaan terhadap 12 staf intelijen Amerika Serikat atas tuduhan meretas komputer-komputer politisi Partai Demokrat dan tim kampanye calon presiden Hillary Clinton, dalam kampanye presiden Amerika Serikat pada 2016.

    Dakwaan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat dan pernyataan Coats muncul tiga hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, direncanakan melakukan pertemuan bilateral untuk pertama kali dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di ibukota Helsinki, Finlandia. Pertemuan itu akan dimulai dengan pembicaraan empat mata antara Trump dan Putin, dimana Trump diperkirakan akan menyinggung temuan intelijen Amerika Serikat atas serangan siber Rusia dan dugaan Rusia telah mencampuri pemilu presiden 2016 yang selama ini selalu disangkal oleh Putin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Zainul Majdi Memihak Prabowo di Pilpres 2014, Kini Memilih Jokowi

    Tuan Guru Bajang Zainul Majdi memberi dukungan pada Jokowi untuk Pemilihan Presiden 2019. Padahal ia dan dua tokoh ini sebelumnya mendukung Prabowo.